(1/1)
atmonadi:Menurut kajian M. Quraish Shihab, huruf-huruf Arab yang sering digunakan sebagai pembuka surah al-Qur’an sebanyak 14 huruf. Ia ditemukan dalam 29 surah. Dengan demikian, empat belas yang dipilih itu adalah setengah dari huruf-huruf hija’iah (alpabet bahasa Arab). Keempat belas huruf itu telah dirangkai oleh sementara ulama antara lain dengan kalimat, “nash karīm qā ti’un lahu sit (Teks mulia yang bersifat pasti dan memiliki rahasia).” Huruf-huruf yang terpilih itu mewakili tempat-tempat keluarnya huruf. Misalnya Alif, tempat keluarnya kerongkongan, Laam, tempat pengucapan dan keluarnya adalah lidah dengan meletakkannya di langit-langit mulut, mim lahir dari pertemuan bibir atas dan bibir bawah. Dengan demikian Alif, Laam, Mim merupakan awal, tengah dan akhir (lihat uraian angka 3 sebagai prinsip keseimbangan). Atau secara umum sebagai suatu siklus yang tertutup perjalanan kehidupan dimana antara Alif dan Mim menuju satu kesatuan, namun dengan jarak yaitu dua Alif Basmalah lainnya yang rahasia, atau dikatakan sebagai suatu perbedaan yang mengisyaratkan suatu capaian ruhaniah seperti diisyaratkan dalam QS 57:3 atau Qabaa Qausaini (sedekat jarak antara dua ujung busur anak panah, atau lebih dekat lagi QS 53:9), atau dinyatakan sebagai suatu syahadah “Laa ilaaha ilaa Allaah, Muhammadurrasulullah”. Namun, Rahmat Allah ini berdiri sebagai bagian dari 3 huruf Alif yang sejatinya menunjukkan 3 kenyataan batiniah bahwa tiga kenyataan itu mendukung aspek lahiriah. Hal ini ternyata ditegaskan oleh al-Qur’an yaitu dalam Surah al-Hadiid [57] ayat 3 yang secara tegas menyatakan,”Dialah, Yang Awal dan Yang Akhir, yang Lahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui Segala Sesuatu.” Sehingga, kalau kita rujukkan maka dua dijit terakhir 22/7 yaitu angka 57 menunjukkan pada jumlah ar-Rahmān di dalam al-Qur’an. Angka 22/7 yang tidak habis bagi dengan demikian mengandung pengertian juga sebagai “Dialah Yang Mengetahui Segala Sesuatu”. Lantas, apa makna angka 8 yang terletak pada dijit ke-empat? Angka 8 ini muncul dari hasil angka 24 dibagi dengan 3. Lho, darimana munculnya angka 24 ini? Inilah jumlah huruf dalam kalimat “Laa Ilahaa Illaa Allah, Muhammadurrasulullah (Tida Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah)” yang berjumlah 24 huruf dan menunjukkan satu periode siang-malam, sebagai satu putaran lingkaran Basmalah. Angka 8 juga muncul dari pembagian nomor surat al-Hadiid 57 dengan 7 sehingga diperoleh pecahan tak habis bagi seperti 22/7 yaitu 8.142857142857142857…Artinya, secara halus surah al-Hadiid menunjukkan penauhidan Allah SWT oleh mereka yang sudah menempuh perjalanan ruhani, dari awal sampai akhir, sehingga secara langsung al-Hadiid ayat 3 tidak lain dari mereka yang telah mengitari lingkaran Basmalah dan menelusuri 7 ayat al-Fatihah. Inilah pernyataan makrifat yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan kaum sufi umumnya dimana dia yang telah makrifat adalah “Dialah, Yang Awal dan Yang Akhir, Yang lahir dan Yang Batin...” Dengan makna khusus, bagi dia yang telah menempuh perjalanan menelusuri Basmalah dan al-Fatihah, maka dia akan terbaqakan didalam-Nya sehingga lahiriahnya adalah Batin-Nya. Atau boleh dikatakan bahwa QS al-Hadiid ayat 3 identik dengan makna tersembunyi dari tujuh ayat al-Fatihah.Lebih jauh lagi, angka 8 menunjukkan cermin dimana Allah dan nabi Muhammad satu sama lain saling “memunggungi dan berhadapan”. Hal ini akan kita sadari bahwa Allah terdiri dari 4 huruf Alif Laam Laam Ha dan Muhammad terdiri dari 4 huruf Miim Ha Miim Dal, jumlahkan 4+4=8. Sehingga makna Ha-Miim sebagai qolbu mukminin sebenarnya erat kaitannya sengan angka 8 di tengah bilangan 1428571. Jadi makna 1428571 tak lain adalah Alif (142), Ha-Mim(8), Miim sebagai kesempurnaan tauhid makhluk (571). Dan yang lebih eksak bahwa huruf PI mengandung tetapan awal mula atau kodefikasi alam semesta kalau kita uraikan 28571 sebagai berikut 2 dan 8 identik dengan 2x2x2x2 dengan kaidah unifikasi dapat kita pisahkan 2x2 sebagai 22 dan dengan perkalian 2x2 sebagai 4, maka diperoleh 22-4-571 Masehi sebagai tanggal lahir Nabi Muhammad SAW (pada beberapa literatur sering juga disebutkan tanggal 20-4-571). Bagaimana bisa? Mungkin Anda akan bertanya betapa ajaibnya huruf PI=22/7 ini karena menyiratkan segala sesuatu tentang Allah dan Nabi Muhammad SAW padahal huruf PI adalah huruf Yunani yang digunakan sebagai simbol matematika untuk menghitung keliling, volume, atau bentuk benda yang mengandung lingkaran atau bulat! Dan formulasi ini sudah ada sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW sejak zaman Phytagoras, bahkan mungkin sejak zaman Nabi Idris a.s yang mempunyai pengetahuan tentang Tuhan Yang Esa kurang lebih 4 setengah milenium (sekitar 4500 tahun) sebelum tahun masehi.Dapat disimpulkan bahwa angka PI=22/7=3.142857…merupakan tetapan awal mula yang REAL dari irrasionalitas pi=355/113 yang memang menunjukkan sifat Kemahakuasaan Allah yang tidak berbatas yang terwakili oleh bentuk lingkaran yang menutup ke dirinya sendiri. Dan juga menunjukkan makna “lahir dan batin” dari keseimbangan global, keteraturan global, ketertalaan global, dari alam semesta dan semua isinya atau merujuk pada Rabbul Aalamin (Yang Maha Memelihara dan Mendidik). Jadi 22/7 juga menunjukkan limpahan kasih sayang atau cinta Allah yang tiada habisnya bagi semua makhluk-Nya. Ternyata 22/7 adalah kode cinta kasih Allah SWT yang tidak akan bisa dibalas oleh semua makhluk-Nya meskipun semua makhluk bersatu padu mengumpulkan semua amaliahnya. Sejatinya, 22/7 juga merepresentasikan akhlak dan perilaku Nabi Muhammad SAW yang membawakan rahmat bagi seluruh alam dan makhluk. Ialah yang mengaktualkan semua isi al-Qur’an menjadi akhlak manusia sempurna yang mulia, manusia yang mampu merespon semua Asma dan Sifat, Af’al-Nya. Lantas bagaimana dengan ar-Rahīm?ar-Rahīm menyatakan bahwa Dia memiliki rahmat yang melekat pada diri-Nya. Maka dengan ar-Rahīm pula semua isi al-Qur’an terurai dari enam ayat setelah Basmalah yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah kalimat-Nya yang dimaksudkan untuk semua manusia dan jin agar perjalanan mereka untuk kembali kepada-Nya dapat dilakukan dengan mulus, karena dengan ar-Rahīm -Nyalah 114 surat al-Qur’an menjadi pedoman bagi semua makhluk-Nya, jadi al-Rahim berkaitan dengan artikulasi ampunan Allah yang aktual baik sebagai Nabi Muhammad SAW sebagai manusia yang akhlaknya sempurna yang memberikan petunjuk maupun al-Qur’an sebagai pedoman. Pengertian demikian tersirat dalam QS 9:128 yang merupakan PERSONIFIKASI AKHLAK ATAU KEPRIBADIAN NABI MUHAMMAD SAW,Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS 9:128)QS 9:128 secara definitif merupakan gambaran bagaimana akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai guru umatnya atau secara umum sebagai Logos atau Gurujati Umat Manusia sehingga ia adalah Rahmaatan Lil ‘Aalamin yang memberikan petunjuk kepada manusia secara universal bukan kepada Bangsa Arab saja dan supaya umat manusia menggunakan akal pikiran dan hatinya secara seimbang dan optimal sehingga penyakit hati yang muncul sebagai amarah dan kebodohan jahiliyah dapat dihapuskan. Misi Muhammad SAW karena itu berkaitan erat dengan manifestasi Allah sebagai Rabbul ’Aalamin yaitu Pencipta, Pemelihara dan Pendidik semua makhluk-Nya. Dengan demikian, ketika kita gunakan pengertian Muhammad sebagai Khalifah,maka kekhalifahannya berkaitan dengan pengetahuannya yang sempurna yang menjadi cermin manusia lainnya sebagai al-Mukmin. Kekhalifahannya bukan Muhammad SAW sebagai raja diraja tetapi sebagai UTUSAN TUHAN yang memberikan petunjuk bagi seluruh umat manusia dengan mengajarkan kaidah yang benar untuk mengenal diri manusia dan mengenal Tuhan Yang Maha Esa sehingga akhirnya muncul sebagai akhlak dan perilaku yang benar dalam pandangan Tuhan yaitu selaras dengan kehendak Allah yang informasinya tercantum dalam al-Qur’an dan As-Sunnah. Kalau sampai hari ini kita masih keliru memaknai kekhalifahan sebagai kekaisaran maka pandangan tersebut telah dikotori oleh hawa nafsu untuk menguasai dan telah ditunggangi oleh keinginan keduniawian dari orang-orang yang dijangkiti penyakit jahiliyah yaitu ego jahiliyah berupa kesukuan, rasisme, keserakahan, dan politik kekuasaan yang merupakan penyakit hati yang justru ingin dimusnahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Jadi, untuk mengingatkan kita bahwa Nabi Muhammad SAW mempunyai misi untuk melenyapkan penyakit jahiliyah berupa penyakit Abu Jahal (mbah Kebodohan) dan Abu lahab (mbahnya api amarah), oleh karena itu kita sebagai Umat Islam jangan mau terjebak tipu daya yang menyebabkan kita justru menjadi gerombolan Abu Jahal dan Abu Lahab. Abu Jahal adalah simbol musuh Nabi yang utama yaitu bapak Kebodohan dan Abu Lahab adalah bapak Amarah.Lafaz ar-Rahīm di dalam al-Qur’an berjumlah 114 kali, sehingga kalau dibagi 19 menjadi 6. Angka enam ini adalah QS 1:2-7 dari al-Fatihah, atau 6 ayat yang diuraikan dari Basmalah. Apa yang telah diuraikan diatas sejatinya menunjukkan bahwa al-Qur’an diturunkan dengan suatu kunci atau kode yang menjamin keotentikan dari semua isi al-Qur’an hingga akhir zaman. Dengan demikian, bila terjadi perubahan kata, maka pastilah jumlah kata dan huruf-hurufnya tidak akan seimbang. Dan satu-satunya yang mampu menguraikan dengan tepat semua isi al-Qur’an adalah Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah terakhir (al-Qur’an). Sehingga, menjadi jelaslah peran Nabi Muhammad SAW sebagai maujud dari akhlak al-Qur’an, maujud dari Asma, Sifat, Af’al Allah SWT, rujukan semua makhluk, sebagai tetapan awal mula, sekaligus sebagai Adimanusia maujud dari Aditeori atau Teori Tentang Segala Sesuatu (Theory Of Everything). Makna lain dari PI(baca Pengetahuan Ilahiyah)=22/7 yang membangun lingkaran menunjukkan kaitan dengan sifat-sifat Allah SWT. Sebagai bentuk elementer atau paling mendasar, maka titik yang menjadi lingkaran mengakomodasikan sifat al-Iradah, al-Qudrah, Al-Qayyum (Dia Yang Hidup Kekal, QS 2:255), Yang Berbeda dengan makhluk-Nya, Yang mendirikan esensi dan eksistensi maujud selain Diri-Nya. QS 2:255 adalah ayat Kursy,“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”Menurut tafsir rasional Imam Fakhrurrazzi dan Muhammad Rasyid Ridha[166], Dia benar-benar Pendiri atau Pencipta seluruh maujud dalam arti Dialah yang yang mempengaruhi atau memungkinkan seluruh maujud menjadi ada karena kehendak-Nya. Pengaruh-Nya terhadap seluruh maujud bisa bersifat supranatural berupa inayatullah (dengan “kun fa yakuun”) atau melalui hukum-hukum alam baik yang kausalitas maupun tidak (Teori Kuantum dan Realtivitas, indeterministik dan deterministik). Maka dengan al-Hayyu dan al-Qayyum ini Dia telah memupuskan keinginan supranatural semata. Dengan sifat al-Hayyu Dia menunjukkan bahwa Dia Maha Tahu dan Maha Kuasa, dan al-Qayyum ia menunjukkan bahwa Dia Maha Berdiri Sendiri atau Mandiri. Sekaligus mendirikan atau menciptakan dan mengurusi sesuatu selain Diri-Nya. Maka menjadi jelas bahwa dengan kalimat Basmalah, alam semesta dan semua makhluk diciptakan dari rahmat dan kasih sayangnya (ar-Rahmaan) dan karena pertolongan-Nya semata (ar-Rahiim) dalam maujud sebuah titik sebagai suatu ketiadaan menuju kefanaan absolut, menjadi sebuah kehendak-Nya Yang Mandiri menjadi lingkaran yang mencakup sifat-sifat-Nya yang terurai dalam ayat Kursy (QS 2:255). Dari ayat Kursy, kalau kita bagi 255 dengan 22 kita peroleh Surah Huud (no ayat 11), yang berbunyi, “Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab yang secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,(QS 11:1)”. Alif Laam Raa kembali menegaskan al-Qur’an sebagai kitab yang sangat terperinci yang diturunkan langsung oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat pertama surah Huud seperti menegaskan kembali peran Nabi Muhammad SAW sebagai gudang ilmu yang mengetahui perincian setiap tanda baca, bilangan, huruf, ayat, dan surah al-Qur’an. Kalau kita bagi 255 dengan 7 maka diperoleh surah Yaasiin [36] dengan ayat pertama berbunyi , “Yaa Siin.”. Dalam surah Yaa Siin ini, ayat 1 sampai 6 menegaskan al-Qur’an yang penuh hikmah, yang dapat mengantarkan manusia ke jalan yang lurus (Shiraatal Mustaqiim) bila mengikuti Nabi Muhammad SAW.Keajaiban Basmalah/al-Fatihah atau 22/7=3.142857 dapat juga diuraikan dengan intepretasi berbeda, namun maknanya serupa dengan penguraian sebelumnya. Untuk itu kita dapat mulai dari sebelah kanan (mengikui cara baca aksara Arab) angka diatas. Angka 7 yang pertama menyatakan bahwa mulailah dengan tujuh ayat al-Fatihah beserta penguraiannya yaitu al-Qur’an sebagai dasar untuk melakukan perjalanan ruhani, lakukan perjalanan mi’raj dengan shalat 5 waktu, guna menyaksikan “Laa iIlaaha ilaa Allah, Muhammadurrasulullah” (angka 8 diperoleh dari 24/3) sebagai kalimat tauhid, yang merupakan maujud lahir dan bathin dari Allah SWT Yang Esa. Sucikan jiwa atau qolbu Anda sehingga qolbu pun menjadi cermin, yaitu qolbu mukminin yang menampung Al-Aalamin sebagai Arasy Allah. Apa yang terletak diantara yang lahir dan batin adalah maujud dari 2 Asma ar-Rahmaan & ar-Rahiim, 4 sifat dominan al-Iradah dan al-Qudrah, al-Hayyu dan al-Qayyum, dan Allah sebagai Ism Agung. Ketujuh Asma dan Sifat tersebut adalah manifestasi dari Dzat Allah Yang Esa (angka 1). Antara yang lahir dan yang bathin terletak alam semesta yang bermula dari suatu titik (.) . Titik itu sejatinya adalah titik awal mula segalanya (singularitas), itulah titik diatas Nun yang menjadi Esensi Ilahiah, ketika “kun fa yakuun” terucapkan, titik itu menjadi titik dibawah huruf Ba, sekaligus menjadi manifestasi penampakkan dari Yang Bathin menjadi Yang Lahir berupa alam semesta dan semua isinya. Untuk mengungkapkan Yang Bathin, yang 7,5,8,2,4, dan 1 harus terpadu menjadi kesatupaduan akhlak dan perilaku lahir dan batin setiap manusia sebagai lingkaran perjalanan yang utuh. Maka setelah semua itu terpadu pada manusia ia mesti menggunakan esensi awal mulanya yakni ruh yang menyaksikan Tuhan Yang Esa (QS 7:172), sehingga akan tersingkap 3 huruf Alif kerahasiaan yang melengkapi 19 huruf Basmalah bahwa yang ada hanyalah Dia Yang Esa. Hal ini ternyata tersingkap juga dari pembagian nomor ayat 172/7=24.57141857…. Dengan mengambil angka 24 sebagai jumlah huruf syahadat atau penauhidan “Laa iIlaaha ilaa Allah, Muhammadurrasulullah”. Ajaib kan.Penguraian Basmalah dan al-Fatihah secara matematis dengan 22/7 yang tak habis bagi sebenarnya secara eksak menunjukkan ketelitian redaksi al-Qur’an. Menurut, M Quraish Shihab, dalam bukunya “Mukjizat Al-Qur’an”[167], Al Qur’an sangat teliti dalam memilih kosa kata. Seringkali pemilihan tersebut – pada pandangan pertama –nampak ganjil, bahkan boleh jadi dinilai menyalahi kaidah kebahasaan, atau tidak sejalan dengan bahasa yang baik dan benar. Namun, kenyataan demikian rupanya bukan suatu kebetulan atau kecerobohan, tetapi memang suatu kitab yang di desain sangat fleksibel bagi pembaca dan penelaahnya dan diperhitungkan satu demi satu seperti diungkapkan dalam QS 72:28. Sehingga apa yang dicantumkan di dalam al-Qur’an sebenarnya mencerminkan bagaimana al-Qur’an harus dipahami, yaitu dengan berbagai modus pemahaman atau keanekaragaman pandangan yang secara langsung sebenarnya merujuk kepada pengertian pemahaman dengan lahir maupun batin. Namun, keduanya satu sama lain saling bertautan, baik dari segi penguraiannya maupun implementasinya. Kalau kita nyatakan dengan bahasa teori kuantum maka di dalam al-Qur’an terdapat modus pemahaman tidak terpisahkan antara pemahaman “lahir dan batin”, “syariat dan hakikat”, “awal dan akhir”, “deterministik dan indeterministik, “fisika dan metafisika”, maupun berdasarkan “Teori Relativitas dan Teori Kuantum”. Dan pemahaman demikian ternyata hanya bisa dipenuhi jika kita menggunakan pendekatan “qalam dan ilmu”, “rasional dan makrifat”, baik dengan instrumen “lahiriah berupa akal” maupun “ruhaniah berupa qolbu” .
2008/03/06
Ilmu Laduni
Pengetahuan yang diperoleh seseorang yang saleh dari Allah SWT melalui ilham dan tanpa dipelajari lebih dahulu melalui suatu jenjang pendidikan tertentu. Oleh sebab itu, ilmu tersebut bukan hasil dari proses pemikiran, melainkan sepenuhnya tergantung atas kehendak dan karunia Allah SWT.Di dalam tasawuf dibedakan tiga jenis alat untuk komunikasi rohaniah, yakni kalbu (hati nurani) untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan, roh untuk mencintai-Nya dan bagian yang paling dalam yakni sirr (rahasia) untuk musyahadah (menyaksikan keindahan, kebesaran, dan kemuliaan Allah SWT secara yakin sehingga tidak terjajah lagi oleh nafsu amarah) kepada-Nya.Meski dianggap memiliki hubungan misterius dengan jantung secara jasmani, kalbu bukanlah daging atau darah, melainkan suatu benda halus yang mempunyai potensi untuk mengetahui esensi segala sesuatu. Lapisan dalam dari kalbu disebut roh; sedangkan bagian terdalam dinamakan sirr, kesemuanya itu secara umum disebut hati. Apabila ketiga organ tersebut telah disucikan sesuci-sucinya dan telah dikosongkan dari segala hal yang buruk lalu diisi dengan dzikir yang mendalam, maka hati itu akan dapat mengetahui Tuhan.Tuhan akan melimpahkan nur cahaya keilahian-Nya kepada hati yang suci ini. Hati seperti itu diumpamakan oleh kaum sufi dengan sebuah cermin. Apabila cermin tadi telah dibersihkan dari debu dan noda-noda yang mengotorinya, niscaya ia akan mengkilat, bersih dan bening. Pada saat itu cermin tersebut akan dapat memantulkan gambar apa saya yang ada ihadapannya.Demikian juga hati manusia. Apabila ia telah bersih, ia akan dapat memantulkan segala sesuatu yang datang dari Tuhan. Pengetahuan seperti itu disebut makrifat musyahadah atau ilmu laduni. Semakin tinggi makrifat seseorang semakin banyak pula ia mengetahui rahasi-rahasia Tuhan dan ia pun semakin dekat dengan Tuhan. Meskipun demikian, memperoleh makrifat atau ilmu laduni yang penuh dengan rahasia-rahasia ketuhanan tidaklah mungkin karena manusia serba terbatas, sedangkan ilmu Allah SWT tanpa batas, seperti dikatakan oleh Al-Junaid, seorang sufi modern, "Cangkir teh tidak akan dapat menampung segala air yang ada di samudera."Keberadaan dan status ilmu laduni bukan tanpa alasan. Para sufi merujuk keberadaan ilmu ini pada Alquran (QS Al Kahfi [18]:60-82) yang memaparkan beberapa episode tentang kisah Nabi Musa AS dan Khidir AS. Kisah tersebut dijadikan oleh para sufi sebagai alasan keberadaan dan status ilmu laduni. Mereka memandang Khidir AS sebagai orang yang mempunyai lmu laduni dan Musa AS sebagai orang yang mempunyai pengetahuan biasa dan ilmu lahir. Ilmu tersebut dinamakan ilmu laduni karena di dalam surah al-Kahfi ayat 65 disebutkan: "wa'allamnahu min ladunna 'ilman.." (..dan yang telah Kami ajarkan kepadanya (Khidir AS) ilmu dari sisi Kami). Dengan demikian ilmu yang diterima langsung oleh hati manusia melalui ilham, iluminasi (penerangan) atau inspirasi dari sisi Tuhan disebut ilmu laduni
Resonansi Hati
Hati adalah tempat terjadinya resonansi. Apakah resonansi? Secara sederhana bisa dikatakan bahwa resonansi adalah 'penularan' getaran kepada benda lain. Artinya,jika kita menggetarkan suatu benda, lantas ada benda lain yang ikut bergetar, maka dikatakan benda lain tersebut terkena resonansi alias 'tertular' getaran aliasfrekuensi.Ambillah contoh gitar akustik. Ia memiliki tabung resonansi yang lubangnya, menghadap ke arah deretan senarnya. Jika senar tersebut digetarkan dengan cara dipetik, maka udara di dalam ruang resonansinya akan ikut bergetar. Inilah yangmenyebabkan suara senar gitar itu terdengar keras dan merdu.Apa yang terjadi jika lubang gitar tersebut disumpal dengan kain? Maka bisa dipastikan tidak akan terjadi resonansi di dalam gitar itu. Maka, suara gitar pun menjadi terdengar sangat pelan dan tidak merdu.Hati atau jantung manusia bagaikan sebuah tabung resonansi gitar. Setiap kita berbuat sesuatu, baik itu pada taraf berpikir maupun berbuat, selalu terjadi getaran di hati kita. Getaran tersebut bisa kasar, bisa juga lembut. Bergantung bagaimana getaran itu muncul. Ketika kita gembira, hati kita bergetar. Ketika sedang bersedih, hati kita juga bergetar. Ketika marah, hati kita juga bergetar.Secara umum getaran tersebut berasal dari 2 sumber, Hawa Nafsu dan Getaran Ilahiah. Hawa Nafsu adalah keinginan untuk melampiaskan segala kebutuhan diri. Getarannyacenderung kasar dan bergejolak-gejolak tidak beraturan. Dalam tinjauan Fisika, getaran semacam ini disebut memiliki frekuensi rendah, dengan amplitudo yang besar yang termasuk dalam getaran hawa nafsu ini diantaranya adalah kemarahan, kebencian, dendam, iri, dengki, berbohong, menipu, kesombongan dan lain sebagainya.Sedangkan Getaran Ilahiah adalah dorongan untuk mencapai tingkatan kualitas yang lebih tinggi. Getarannya cenderung lembut dan halus, dengan frekuensi getaran yang sangat tinggi dan teratur. Termasuk dalam getaran Ilahiah ini adalah membaca Firman Allah di dalam Al Quran. Berdzikir menyebut Asmaul Husna. Sifat sabar, ikhlas, dan kepasrahan diri dalam beragama.Sebagai contoh, adalah seseorang yang sedang marah. Ketika marah, seseorang akan mengeluarkan getaran kasar hawa nafsu dari hatinya. Jantung hatinya akan bergejolak dan berdetak-detak tidak beraturan. Mukanya merah, telinganya panas, dan tangannya gemetaran. Frekuensinya rendah dan kasar, dengan amplitudo yang besar. Jika dilihat pada alat pengukur getaran jantung (ECG Electric Cardio Graph), akan terlihat betapa grafik yang dihasilkan sangatlah kasar dan bergejolak.Getaran yang domikian memiliki efek negatif terhadap, tubuh kita. Sebuah benda yang dikenai getaran kasar terus-menerus akan mengalami kekakuan dan kemudian mengeras. Demikian Pula jantung kita. Orang yang pemarah akan memiliki resiko sakit jantung dan mengerasnya pembuluh-pembuluh darahnya. Dan secara psikologis dikatakan hatinya semakin mengeras dan tidak mudah bergetar oleh kebajikan.Bukti lain bahwa hati semakin keras jika dipengaruhi hawa nafsu terus adalah orang yang suka berbohong dan menipu. Pada awalnya, orang yang berbohong selalu bergetarhatinya. Akan tetapi, kalau ia sering berbohong, maka hatinya tidak bergetar lagi saat ia membohongi orang lain. Ini menunjukkan betapa hatinya semakin keras dan sulit bergetar.Karena itu, apa yang diungkapkan oleh Allah di dalam. Quran tentang lima tingkatan hati, sebenarnya bisa dijelaskan secara ilmiah, bahwa hati memang akan menuju kualitas yang semakin jelek jika digunakan untuk kejahatan terus-menerus.Jika hati kita berpenyakit, dan kemudian sering mengeluarkan getaran-getaran yang kasar, maka getaran itu akan menyebabkan hati kita mengeras. Kekerasan hati kita ituakan terus meningkat, hingga dikatakan Allah seperti batu atau lebih keras lagi. Hati yang keras adalah hati yang sulit bergetar. Semakin lama semakin tidak bisabergetar.Jika ini diteruskan maka hati kita tidak mampu lagi beresonansi. Hati yang demikian adalah hati yang tidak peka tehadap lingkungannya. Maka, pada tingkatan ini hatikita seperti tertutup karena tidak mampu lagi beresonansi alias bergetar. Bagaikan lubang gitar yang tersumpal oleh kain atau benda-benda lain. Tidak bisa menghasilkangetaran dan suara yang merdu. Dan akhirnya, kata Allah, hati yang seperti itu dikunci mati. Na'udzubillahi min dzaalik.Sebaliknya, hati yang baik adalah hati yang lembut. Hati yang gampang bergetar. Bagaikan buluh perindu yang menghasilkan suara merdu ketika ditiup. Kenapa bisa demikian? Karena, hati yang lembut bagaikan sebuah tabung resonansi yang bagus. Getarannya menghasilkan frekuensi yang semakin lama semakin tinggi. Semakin lembut hati seseorang, semakin tinggi pula frekuensinya. Pada frekuensi 10 pangkat 8 akan menghasilkan gelombang radio. Dan jika lebih tinggi lagi, pada frekuensi 10 pangkat 14, akan menghasilkan gelombang cahaya.Jadi, seseorang yang hatinya lembut akan bisa menghasilkan cahaya di dalam hatinya. Dan jika cahaya ini semakin menguat, maka ia akan 'merembet' keluar menggetarkanseluruh bio elektron di dalam tubuhnya untuk mengikuti frekuensi cahaya tersebut. Hasilnya, tubuhnya akan mengeluarkan cahaya alias aura yang jernih. Dan jikakelembutan itu semakin menguat, maka aura itu akan merembes semakin jauh mempengaruhi lingkungan sekitarnya.Karena itu, kalau kita berdekatan dengan orang-orang yang ikhlas dan penuh kesabaran, hati kita juga merasa tentram dan damai. Sebab hati kita teresonansi oleh getaran frekuensi tinggi yang bersumber dari hati dan aura tubuhnya. Sebaliknya, kalau kita berdekatan dengan seseorang yang pemarah, maka hati kita akan ikut merasa 'panas' dan gelisah. Semua itu akibat adanya resonansi gelombang elektromagnetik yang memancar dari tubuh seseorang kepada sekitarnya.
Menyelam ke Samudera Jiwa dan Ruh
Menarik dalam kemasan dan penyajian logika yang di bangun penulis. Itulah kesan pertama saat membaca buku ini. Permisalan yang logis dari struktur bangunan susunan manusia. Kajian Jiwa dan Ruh yang merupakan bagian terdekat manusia. Namun juga menyajikan misteri paling dalam dan tak terungkap. Proses penggalian terhadap keduanya seumur peradaban manusia itu sendiri. Zaman peradaban Yunani telah memulai ini. Bangunan dan definisi telah diungkapkan para filosof kala itu. Namun bagaikan sumber mata air tak kering untuk dikaji dan di bahas sampai saat ini. Bahkan saya sangat yakin akan terus sampai peradaban manusia berakhir (kiamat).
Para filosof dahulu telah memulai untuk mengetahui rahasia pribadi manusia ini. Penggalian esoteris manusia ini sama menggelitiknya dengan mengetahui eksoterisme pengetahuan di luar manusia. Namun yang membedakan antara keduanya terletak pada kesan misteri yang dikandungnya. Misteri yang ghalib dipahami adalah sesuatu yang jauh dari jangkauan. Ada jarak tertentu, sehingga menyimpan tanda tanya untuk segera dipecahkan. Apabila sudah jelas diketahui misteri yang menyelimutinya, maka seolah kesan jauh tersebut akan hilang. Kesan dekat dan terbiasa dengan sendirinya muncul. Namun misteri yang menyelimuti manusia memilki karakteristik yang aneh sekaligus memicu daya tarik. Bawaan manusia berupa Jiwa dan Ruh. Logika filsafat dimulai dengan proses mempertanyakan misteri yang di kandung manusia. Logika dasar pertanyaan 5 W + H menjadi dasar bangunan filsafat dunia Barat sampai kini. Penggalian esoteris manusia di mulai dengan pertanyaan “Siapakah dirimu?” Pertanyaan gampang secara tekstual namun memiliki jalur panjang jawaban yang tak ada habisnya. Dan akan terus digali sampai kapanpun karena tidak (belum?) dikeketemukan jawaban yang memuaskan. Ya, “Siapakah Anda?”
Penulis buku ini, Agus Mustofa memulai dengan penggalian definisi. Penulis memberikan gambaran awal bahwa dua kata; jiwa dan ruh memiliki definisi berbeda. Ia ingin menolak definisi yang menyamakan bahwa keduanya adalah sama dalam pengertian dan intensitasnya (hal.5). Seperti yang diungkapkan Ibnu Qoyyin Al Jauziyah, bahwa Ruh adalah bentuk lain dari jiwa. Demikian pula sebaliknya. Penulis mendefinisikan manusia terbagi atas tiga unsur fisik, jiwa dan ruh. Unsur fisik adalah bangunan struktur biologis manusia. Jiwa adalah suatu bentuk kesadaran manusia dan berbarengan adanya dengan proses terbentuknya biologis manusia. Ia mengambil contoh kedua bentuk biologis dan jiwa bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Agus Mustofa dengan baik mendefinisikan perbedaan karakteristik antara jiwa dan ruh dengan tiga macam. Substansi, fungsi dan sifatnya. Perbedaan segi substansi keduanya adalah jiwa merupakan citra kesadaran sehingga bisa berubah-ubah, naik turun dan berkembang terus sesuai input yang masuk. Sebaliknya ruh terbebas dari kondisi yang dialami jiwa. Dari segi fungsi adalah bentuk tanggung jawab jiwa atas segala aktifitas dan eksistensi manusia. Jiwalah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipikirkan, dikerjakan manusia di hadapan Allah kelak. Lagi-lagi ruh terbebas dari tanggung jawab ini. Sifat keduanya bersebarangan, jiwa dapat merasakan senang, sedih, bahagia, sakit dan lain-lain. Ruh bagi penulis -berdasarkan sumber yang diambil dari ayat-ayat Alquran- tidak merasakan itu semua. Ruh adalah gambaran sifat positif dari Allah dan berseberangan dengan sifat negatif yang berasal dari setan.
Coba bandingkan pembagian manusia menjadi tiga unsur ini dengan khasanah sufi klasik. Sebagai awal Penulis sudah menjelaskan bahwa buku-buku yang ia tulis adalah diskusi tasawwuf modern. Kajian yang berkeinginan menggali dunia tasawwuf dengan alat bantu sains dan ilmu pengetahuan mutakhir. Sebagian khazanah sufi membagi unsur menjadi empat bagian : fisik/raga, hati nurani/qolbu, ruh dan sirr/rasa. Keduanya kalau ditilik hampir merupakan persamaan. Hanya unsur hati nurani/qolbu yang tidak (belum?) dimasukkan penulis. Unsur Rasa yang belum tercantum dalam katagori penulis dapat kita jumpai dalam sifat jiwa. Yaitu dapat merasakan sedih, senang, bahagia, tentram, dan lain sebagainya (hal.26). Namun tetap akan menggelitik pikiran kita, karena memiliki cakupan wilayah yang luasnya berbeda. Rasa yang diungkapkan oleh penulis adalah sifat yang muncul dari kondisi perasaan. Sedangkan sirr/rasa yang dimaksud tasawwuf klasik adalah lebih luas dari perasaan. Sirr/rasa adalah instrumen yang memunculkan sistem rasa baik untuk unsur lahir dan batin. Seperti rasa asam, manis, pahit, getir yang berasala dari makanan. Rasa-rasa di atas sangat mustahil di bahasakan, hanya bisa diketahui setelah merasakan. Dan rasa batin seperti perasaan lega, bahagia, sedih, tentram dan lain-lain seperti yang dimaksud penulis.
Dunia tasawwuf yang saat ini mulai geliatnya lewat munculnya perkumpulan pengajian, halaqoh, majlis dzikir dan tarekat-tarekat yang memfokuskan pada perbaikan qolbu/hati. Nah pertanyaan kemudian yang muncul, dimanakah penulis menempatkan hati/qolbu dan rasa? Pembahasan panjang penulis tidak spesifik membahas hati/qolbu dan haya sekilas ulasan rasa. Itupun yang berkaitan dengan perasaan. Saya pribadi belum menemukan penyamaan jiwa dengan hati/qolbu dari buku ini.
Penulis sukses best seller ini telah menulis empat buku kajian diskusi tasawwuf modern. Kesemuanya memiliki titik tolak pada sarana untuk menerjemahkkan fenomena tasawwuf dengan bantuan sains dan ilmu pengetahuan mutakhir. Dengan bahasa yang gamblang penulis membuat kesimpulan contoh bagi ketiga unsur susunan manusia. Komputer dan robot adalah hasil karya teknologi ilmu pengetahuan mutakhir yang diambil penulis sebagai bahan padanan. Maka untuk memahami logika dan permisalan yang diketengahkan penulis, setidaknya pembaca diharuskan memiliki pengetahuan dasar komputer/robot. Sebab apabila tidak ada pengetahuan ini, saya rasa ada kesan yang tidak tersampaikan. Penulis menggambarkan bentuk fisik/biologis manusia adalah hardware/perangkat keras penyusun komputer/robot. Seperti motherboard, memori, prosessor, vaga, monitor dan lainnya. Susunan berbagai alat yang dihubungkan dengan sumber listrik sehingga membentuk satu sistem yang bernama komputer. Inilah penggambaran biologis. Organ-organ biologis ini hanya sebatas ada, belum mampu berfungsi. Perlu sesuatu untuk membuat semua alat yang telah tersusun tersebut dapat bekerja. Maka diperlukan software/perangkat lunak yang mampu memprogram, mengarahkan dan membuat sistem hardware bekerja. Program yang berfungsisebagai pengatur semua yang berkaitan dengan komputer. Dasar dari semuanya. Itulah ruh yang dimisalkan penulis dengan sistem operasi dasar (operating system/OS). Kita mengenal contoh OS seperti Windows dan Linux. Seperti itulah sederhanyanya fungsi ruh bagi tubuh/raga seperti OS bagi komputer. Tentunya permisalan ini belum mencukupi untuk menggambarkan ruh, karena begitu besarnya misteri ruh itu sendiri. Seperti yang sudah difirmankan Allah dalam QS. Al Isyro’ (17) : 85.
Dan mereka menanyakan kepadamu tentang Ruh. Katakanlah :”Ruh itu termasuk urusan Tuhanku. Dan tidaklah kamu kamu sekalian diberi pengetahuan tentang itu melainkan sedikit”.
Nah saat semua hard ware /perangkat keras komputer (biologis manusia) dapat bekerja diperlukan program lanjutan. Program/software ini berfungsi dan bekerja sesuai kebutuhan. Misalkan dalam OS Windows kita mengenal program office word untuk menjalankan masalah tulis menulis. Presentasi dengan office power point, gambar teknik dengan auto CAD atau Solid Edge dan lain-lain. Paket program sesuai kebutuhan ini yang menjadi penggambaran penulis untuk Jiwa. Inilah jiwa yang kondisinya dapat berubah-ubah sesuai kebutuhan. Dapat bertambah apabila ada tambahan input informasi, pengalaman hidup dan pengalaman eksperimental. Jiwa akan dapat memacu ke arah tambah bijak, dewasa. Jiwa terkumpul berbarengan dengan kehidupan manusia.
Titik tolak semua perilaku jiwa itu bersumber pada akal dan kesadaran. Pada akhirnya penulis menggiring kita untuk menemukan kesimpulan bahwa otak adalah representasi dari jiwa. Semua informasi bersumber dan diolah dari sana. Jadi jiwa berada di balik fisik otak manusia. Di sanalah segala input diolah dan direfleksikan dalam perilaku manusia. Nafs/diri yang mengandung berbagai macam karakter (nafs amarah, lawwamah, sufiah/mulhimah, muthmainnah, rodliyah, mardliyah dan kamilah) dikontrol oleh jiwa yang berada dibalik otak. Maka dimanakah ruh bekerja dan berada? Penulis dengan baik menjabarkan seperti peran operating system, maka ruh adalah pembawa sifat-sifat Tuhan dan berada pada keseluruhan manusia. Sampai pada unsur terkecil manusi, DNA. Posisi jiwa dengan ruh seperti software/program aplikasi yang harus sesuai dengan OS, maka penulis menggambarkan jiwa akan bekerja jika difasilitasi oleh ruh.
Sayangnya seperti ulasan saya di atas, ada satu yang terlewatkan penulis. Yaitu hati/qolbu. Penjelasan tentang hati/qolbu tidak (belum?) mendapatkan tempat. Sebab jika hati/qolbu disamakan dengan jiwa kurang tepat. Merunut analisis penulis dibalik otaklah jiwa berada. Padahal mafhum umum kalau hati (dalam pengertian fisik dan batin) secara anatomis digambarkan berada di dada. Walaupun memiliki fungsi/tujuan hampir sama. Seperti hadits nabi tentang pentingnya hati (segumpal daging) sebagai pusat/raja karena apabila baik maka baiklah seluruh jasadnya. Sebaliknya apabila segumpal daging itu rusak maka rusaklah keseluruhan jasad manusia itu. Seperti hadits Qudsi yang diambil Ibnu Athailah dalam Kitabnya Al Hikam : “Bumi dan langit-Ku tidak bisa memuat-Ku, dan yang bisa memuat-Ku adalah qolbu hamba-Ku yang beriman.” Apabila Ruh dalam pengertian penulis di samakan dengan pengertian hati di sini juga kurang sesuai. Ruh sebagai keseluruhan sistem menurut penulis, sedangkan hati di sini berfungsi sebagai pusat kendali.
Seperti ulasan majalah Cahaya Sufi dalam menggambarkan skema Amaliah Dienul Islam, kita dapati susunan manusia. Pemilahan Amaliah menjadi tiga : Islam, Iman, Ihsan. Ketiganya membawa muara pada kajian ilmu yang fokus padanya. Islam dapat digali dengan ilmu Fiqih, ilmu Tauhid/kalam dapat menjelaskan fenomena keimanan dan ilmu tasawwuf untuk menggali nilai Ihsan. Ujung dari ilmu-ilmu tersebut adalah makanan/konsumsi organ penyusun manusia. Fiqih diperuntukkan bagi kecerdasan akal dan fikiran (1). Qolbu/hati nurani untuk menjembatani tauhid (2). Kecerdasan Ruh (3) dan Sirr (4) dapat digali dengan ilmu tasawwuf. Pembagian dan skema yang jelas arah tujuannya. Seperti yang digambarkan/disimbolkan kubah bangunan masjid yang bertingkat tiga. Tingkat pertama adalah islam, di atasnya untuk menggambarkan iman dan puncak ketiga yang semakin kecil (mengandung maksud semakin sedikit jumlah) menggambarkan tingkat ihsan.
Terlepas dari itu semu, pendeskripsian penulis dengan membuat permisalan hubungan Raga, Jiwa dan Ruh seperti dalam susunan komputer membawa suasana baru. Apalagi ditambahi dengan pengetahuan mutakhir biologi tentang anatomi tubuh sampai susunan terkecil. Membuat pembaca mudah mencerna dan membayangkan ketiganya. Pemahaman sulit yang seringkali dihadapi umat islam saat berhadapan dengan nilai-nilai tasawwuf dapat terbantu. Tentunya diperlukan pengetahuan dasar biologi anatomi tubuh dan dasar komputer. Selamat menikmati dan menjelajah pada diri !!!
Para filosof dahulu telah memulai untuk mengetahui rahasia pribadi manusia ini. Penggalian esoteris manusia ini sama menggelitiknya dengan mengetahui eksoterisme pengetahuan di luar manusia. Namun yang membedakan antara keduanya terletak pada kesan misteri yang dikandungnya. Misteri yang ghalib dipahami adalah sesuatu yang jauh dari jangkauan. Ada jarak tertentu, sehingga menyimpan tanda tanya untuk segera dipecahkan. Apabila sudah jelas diketahui misteri yang menyelimutinya, maka seolah kesan jauh tersebut akan hilang. Kesan dekat dan terbiasa dengan sendirinya muncul. Namun misteri yang menyelimuti manusia memilki karakteristik yang aneh sekaligus memicu daya tarik. Bawaan manusia berupa Jiwa dan Ruh. Logika filsafat dimulai dengan proses mempertanyakan misteri yang di kandung manusia. Logika dasar pertanyaan 5 W + H menjadi dasar bangunan filsafat dunia Barat sampai kini. Penggalian esoteris manusia di mulai dengan pertanyaan “Siapakah dirimu?” Pertanyaan gampang secara tekstual namun memiliki jalur panjang jawaban yang tak ada habisnya. Dan akan terus digali sampai kapanpun karena tidak (belum?) dikeketemukan jawaban yang memuaskan. Ya, “Siapakah Anda?”
Penulis buku ini, Agus Mustofa memulai dengan penggalian definisi. Penulis memberikan gambaran awal bahwa dua kata; jiwa dan ruh memiliki definisi berbeda. Ia ingin menolak definisi yang menyamakan bahwa keduanya adalah sama dalam pengertian dan intensitasnya (hal.5). Seperti yang diungkapkan Ibnu Qoyyin Al Jauziyah, bahwa Ruh adalah bentuk lain dari jiwa. Demikian pula sebaliknya. Penulis mendefinisikan manusia terbagi atas tiga unsur fisik, jiwa dan ruh. Unsur fisik adalah bangunan struktur biologis manusia. Jiwa adalah suatu bentuk kesadaran manusia dan berbarengan adanya dengan proses terbentuknya biologis manusia. Ia mengambil contoh kedua bentuk biologis dan jiwa bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Agus Mustofa dengan baik mendefinisikan perbedaan karakteristik antara jiwa dan ruh dengan tiga macam. Substansi, fungsi dan sifatnya. Perbedaan segi substansi keduanya adalah jiwa merupakan citra kesadaran sehingga bisa berubah-ubah, naik turun dan berkembang terus sesuai input yang masuk. Sebaliknya ruh terbebas dari kondisi yang dialami jiwa. Dari segi fungsi adalah bentuk tanggung jawab jiwa atas segala aktifitas dan eksistensi manusia. Jiwalah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipikirkan, dikerjakan manusia di hadapan Allah kelak. Lagi-lagi ruh terbebas dari tanggung jawab ini. Sifat keduanya bersebarangan, jiwa dapat merasakan senang, sedih, bahagia, sakit dan lain-lain. Ruh bagi penulis -berdasarkan sumber yang diambil dari ayat-ayat Alquran- tidak merasakan itu semua. Ruh adalah gambaran sifat positif dari Allah dan berseberangan dengan sifat negatif yang berasal dari setan.
Coba bandingkan pembagian manusia menjadi tiga unsur ini dengan khasanah sufi klasik. Sebagai awal Penulis sudah menjelaskan bahwa buku-buku yang ia tulis adalah diskusi tasawwuf modern. Kajian yang berkeinginan menggali dunia tasawwuf dengan alat bantu sains dan ilmu pengetahuan mutakhir. Sebagian khazanah sufi membagi unsur menjadi empat bagian : fisik/raga, hati nurani/qolbu, ruh dan sirr/rasa. Keduanya kalau ditilik hampir merupakan persamaan. Hanya unsur hati nurani/qolbu yang tidak (belum?) dimasukkan penulis. Unsur Rasa yang belum tercantum dalam katagori penulis dapat kita jumpai dalam sifat jiwa. Yaitu dapat merasakan sedih, senang, bahagia, tentram, dan lain sebagainya (hal.26). Namun tetap akan menggelitik pikiran kita, karena memiliki cakupan wilayah yang luasnya berbeda. Rasa yang diungkapkan oleh penulis adalah sifat yang muncul dari kondisi perasaan. Sedangkan sirr/rasa yang dimaksud tasawwuf klasik adalah lebih luas dari perasaan. Sirr/rasa adalah instrumen yang memunculkan sistem rasa baik untuk unsur lahir dan batin. Seperti rasa asam, manis, pahit, getir yang berasala dari makanan. Rasa-rasa di atas sangat mustahil di bahasakan, hanya bisa diketahui setelah merasakan. Dan rasa batin seperti perasaan lega, bahagia, sedih, tentram dan lain-lain seperti yang dimaksud penulis.
Dunia tasawwuf yang saat ini mulai geliatnya lewat munculnya perkumpulan pengajian, halaqoh, majlis dzikir dan tarekat-tarekat yang memfokuskan pada perbaikan qolbu/hati. Nah pertanyaan kemudian yang muncul, dimanakah penulis menempatkan hati/qolbu dan rasa? Pembahasan panjang penulis tidak spesifik membahas hati/qolbu dan haya sekilas ulasan rasa. Itupun yang berkaitan dengan perasaan. Saya pribadi belum menemukan penyamaan jiwa dengan hati/qolbu dari buku ini.
Penulis sukses best seller ini telah menulis empat buku kajian diskusi tasawwuf modern. Kesemuanya memiliki titik tolak pada sarana untuk menerjemahkkan fenomena tasawwuf dengan bantuan sains dan ilmu pengetahuan mutakhir. Dengan bahasa yang gamblang penulis membuat kesimpulan contoh bagi ketiga unsur susunan manusia. Komputer dan robot adalah hasil karya teknologi ilmu pengetahuan mutakhir yang diambil penulis sebagai bahan padanan. Maka untuk memahami logika dan permisalan yang diketengahkan penulis, setidaknya pembaca diharuskan memiliki pengetahuan dasar komputer/robot. Sebab apabila tidak ada pengetahuan ini, saya rasa ada kesan yang tidak tersampaikan. Penulis menggambarkan bentuk fisik/biologis manusia adalah hardware/perangkat keras penyusun komputer/robot. Seperti motherboard, memori, prosessor, vaga, monitor dan lainnya. Susunan berbagai alat yang dihubungkan dengan sumber listrik sehingga membentuk satu sistem yang bernama komputer. Inilah penggambaran biologis. Organ-organ biologis ini hanya sebatas ada, belum mampu berfungsi. Perlu sesuatu untuk membuat semua alat yang telah tersusun tersebut dapat bekerja. Maka diperlukan software/perangkat lunak yang mampu memprogram, mengarahkan dan membuat sistem hardware bekerja. Program yang berfungsisebagai pengatur semua yang berkaitan dengan komputer. Dasar dari semuanya. Itulah ruh yang dimisalkan penulis dengan sistem operasi dasar (operating system/OS). Kita mengenal contoh OS seperti Windows dan Linux. Seperti itulah sederhanyanya fungsi ruh bagi tubuh/raga seperti OS bagi komputer. Tentunya permisalan ini belum mencukupi untuk menggambarkan ruh, karena begitu besarnya misteri ruh itu sendiri. Seperti yang sudah difirmankan Allah dalam QS. Al Isyro’ (17) : 85.
Dan mereka menanyakan kepadamu tentang Ruh. Katakanlah :”Ruh itu termasuk urusan Tuhanku. Dan tidaklah kamu kamu sekalian diberi pengetahuan tentang itu melainkan sedikit”.
Nah saat semua hard ware /perangkat keras komputer (biologis manusia) dapat bekerja diperlukan program lanjutan. Program/software ini berfungsi dan bekerja sesuai kebutuhan. Misalkan dalam OS Windows kita mengenal program office word untuk menjalankan masalah tulis menulis. Presentasi dengan office power point, gambar teknik dengan auto CAD atau Solid Edge dan lain-lain. Paket program sesuai kebutuhan ini yang menjadi penggambaran penulis untuk Jiwa. Inilah jiwa yang kondisinya dapat berubah-ubah sesuai kebutuhan. Dapat bertambah apabila ada tambahan input informasi, pengalaman hidup dan pengalaman eksperimental. Jiwa akan dapat memacu ke arah tambah bijak, dewasa. Jiwa terkumpul berbarengan dengan kehidupan manusia.
Titik tolak semua perilaku jiwa itu bersumber pada akal dan kesadaran. Pada akhirnya penulis menggiring kita untuk menemukan kesimpulan bahwa otak adalah representasi dari jiwa. Semua informasi bersumber dan diolah dari sana. Jadi jiwa berada di balik fisik otak manusia. Di sanalah segala input diolah dan direfleksikan dalam perilaku manusia. Nafs/diri yang mengandung berbagai macam karakter (nafs amarah, lawwamah, sufiah/mulhimah, muthmainnah, rodliyah, mardliyah dan kamilah) dikontrol oleh jiwa yang berada dibalik otak. Maka dimanakah ruh bekerja dan berada? Penulis dengan baik menjabarkan seperti peran operating system, maka ruh adalah pembawa sifat-sifat Tuhan dan berada pada keseluruhan manusia. Sampai pada unsur terkecil manusi, DNA. Posisi jiwa dengan ruh seperti software/program aplikasi yang harus sesuai dengan OS, maka penulis menggambarkan jiwa akan bekerja jika difasilitasi oleh ruh.
Sayangnya seperti ulasan saya di atas, ada satu yang terlewatkan penulis. Yaitu hati/qolbu. Penjelasan tentang hati/qolbu tidak (belum?) mendapatkan tempat. Sebab jika hati/qolbu disamakan dengan jiwa kurang tepat. Merunut analisis penulis dibalik otaklah jiwa berada. Padahal mafhum umum kalau hati (dalam pengertian fisik dan batin) secara anatomis digambarkan berada di dada. Walaupun memiliki fungsi/tujuan hampir sama. Seperti hadits nabi tentang pentingnya hati (segumpal daging) sebagai pusat/raja karena apabila baik maka baiklah seluruh jasadnya. Sebaliknya apabila segumpal daging itu rusak maka rusaklah keseluruhan jasad manusia itu. Seperti hadits Qudsi yang diambil Ibnu Athailah dalam Kitabnya Al Hikam : “Bumi dan langit-Ku tidak bisa memuat-Ku, dan yang bisa memuat-Ku adalah qolbu hamba-Ku yang beriman.” Apabila Ruh dalam pengertian penulis di samakan dengan pengertian hati di sini juga kurang sesuai. Ruh sebagai keseluruhan sistem menurut penulis, sedangkan hati di sini berfungsi sebagai pusat kendali.
Seperti ulasan majalah Cahaya Sufi dalam menggambarkan skema Amaliah Dienul Islam, kita dapati susunan manusia. Pemilahan Amaliah menjadi tiga : Islam, Iman, Ihsan. Ketiganya membawa muara pada kajian ilmu yang fokus padanya. Islam dapat digali dengan ilmu Fiqih, ilmu Tauhid/kalam dapat menjelaskan fenomena keimanan dan ilmu tasawwuf untuk menggali nilai Ihsan. Ujung dari ilmu-ilmu tersebut adalah makanan/konsumsi organ penyusun manusia. Fiqih diperuntukkan bagi kecerdasan akal dan fikiran (1). Qolbu/hati nurani untuk menjembatani tauhid (2). Kecerdasan Ruh (3) dan Sirr (4) dapat digali dengan ilmu tasawwuf. Pembagian dan skema yang jelas arah tujuannya. Seperti yang digambarkan/disimbolkan kubah bangunan masjid yang bertingkat tiga. Tingkat pertama adalah islam, di atasnya untuk menggambarkan iman dan puncak ketiga yang semakin kecil (mengandung maksud semakin sedikit jumlah) menggambarkan tingkat ihsan.
Terlepas dari itu semu, pendeskripsian penulis dengan membuat permisalan hubungan Raga, Jiwa dan Ruh seperti dalam susunan komputer membawa suasana baru. Apalagi ditambahi dengan pengetahuan mutakhir biologi tentang anatomi tubuh sampai susunan terkecil. Membuat pembaca mudah mencerna dan membayangkan ketiganya. Pemahaman sulit yang seringkali dihadapi umat islam saat berhadapan dengan nilai-nilai tasawwuf dapat terbantu. Tentunya diperlukan pengetahuan dasar biologi anatomi tubuh dan dasar komputer. Selamat menikmati dan menjelajah pada diri !!!
Bagaimana Mencuci Hati/qolbu?
Segala aspek kehidupan ini bermula daripada hati.Oleh itu di bawah ini ada beberapa cara bagaimana hendak mencuci hati. Diolah oleh pakar motivasi Datuk Dr. Haji Fadzilah Kamsah. 1) Dirikan solat dan banyakkan berdo'a - Ini adalah salah satu kaedah yang sungguh berkesan.Semasa berdo'a turut katakan "Ya,Allah jadikan hatiku bersih"2) Selawat keatas Nabi Muhammad s.a.w paling minima 100 X sebelum tidur, Ini merupakan satu pelaburan yang mudah dan murah. Disamping dosa-dosa diampunkan, otak tenang, murah rezeki, orang sayangkan kita dan mencetuskan semua perkara kebaikan.3) Solat taubat - Selain daripada memohon keampunan, dapat mencuci hati dan menenangkan minda. 4) Membaca Al-Quran - Selain dapat mencuci hati juga menenangkan jiwa, penyembuh, penenang, terapi. Sekurang-kurangnya bacalah "Qulhu-allah" sebanyak 3X. 5) Berma'af-ma'afan sesama kawan setiap hari - Semasa meminta maaf perlu sebutkan. 6) Bisikan kepada diri perkara yang positif - Jangan sesekali mengkritik, kutuk diri sendiri, merendah-rendahkan kebolehan diri sendiri. katakan lah "Aku sebenarnya......(perkara yang baik-baik saja) 7) Program minda/cuci minda - Paling baik pada waktu malam sebelum tidur, senyum, pejam mata, katakan di dalam hati "Ya, Allah cuci otak aku, cuci hatiku, esok aku nak jadi baik, berjaya, ceria, bersemangat, aktif, positif". Menurut kajian saikologi, apa yang disebut sebelum tidur dapat dirakamkan sepanjang tidur sehingga keesokan harinya - CUBALAH!! 8) Berpuasa - Sekiranya dalam berpuasa terhindar dari melakukan perkara-perkara kejahatan. 9) Cuba ingat tentang mati (Sekiranya hendak melakukan sesuatu kejahatan, tidak sampai hati karena bimbang akan mati bila-bila masa) 10) Kekalkan wuduk 11) Bersedekah 12) Belanja orang makan. 13) Jaga makanan - jangan makan makanan yang subhat 14) Berkawan dengan ulama 15) Berkawan dengan orang miskin (menginsafi) 16) Pesan pada orang, jadi baik 17) Menjaga pacaindera (mata, telinga, mulut...dsb), jangan dengar orang mengumpat.
2008/03/03
Orang Baik Akrab dengan Musibah?
DALAM waktu dua hari setelah mudik dari Cirebon, mobil dan motor teman saya dibawa kabur maling. Kini ia hanya meratapi nasibnya. Kawanku yang lain pernah pula ditempa musibah yang cukup hebat. Juga saya sendiri dan Anda pembaca sekalian. Akankah mereka tetap kuat??
“Kang, motor isun wingine ilang.” (Mas, motor saya hilang dua hari yang lalu.)
“Ha!” jawabku kaget.
“Nembe bae sekie, mobil isun ilang” (baru saja, mobilku hilang juga)
“Haaaaaaa….!!!!!”
Begitulah kawan sedaerah yang tinggal di Ciputat ini menelpon saya saat kejadian kedua. Tak bisa dimengerti, dalam tempo dua hari kendaraanya hilang begitu saja.
Motor GL MAX tahun 2005 hilang saat diparkir di garasi rumahnya. Ketahuan, setelah ia datang dari kampung. Sedangkan mobil barunya yang biasa untuk mengangkut komputer dagangannya dua hari berikutnya, saat ia sendiri memarkir sebentar di kantin miliknya, samping UIN Ciputat. Padahal ia sendiri hanya sebentar masuk ke dalam. Begitu ke luar mobil itu kabur sendiri tanpa terdengar apa-apa.
Kini, ia hanya menunggu dalam ketidakpastian apakah kendaraanya bisa kembali atau tidak. Yang jelas ia sudah melaporkan kasus itu kepada polisi sektor Ciputat.
“Tolongin dong kang, punya orang pinter tidak yang bisa menolong saya?”
“Maksude?”
“Ya barangkali bisa menolong secara hikmah”
“Wah kalau itu sih saya tidak tahu. Mungkin kalau David Copperfield jadi datang ke sini, kita bisa minta tolong dia untuk menyulap mobilmu kembali.”
“Bocah geblg!”
“Iyaa Mud isun turut prihatin atas musibah sing menimpamu. Tapi yaa kepriben maning, isun bli bisa nulungi.”
“Kenen Mud, jare wong tua ning Crebon, sumangsane wong dagang rumbah soun sambele tumplek, iku tandae bakalan dagangane laris.”Aku mulai menghibur.
(begini Mud, kata orangtua di Cirebon, kalau ada tukang gado-gado sambel cairnya tumpah berantakan, maka itu pertanda baik kalau dagangannya bakalan laku keras.)
“huhahahaha…” ia tertawa tertawa lepas.
***
Saya melihat kejadian ini betul-betul mengagetkan. Kawanku yang dianggap orang baik-baik saja, terkena musibah beruntun. Namun juga sepertinya musibah itu tidak mengenal apakah orangnya baik atau buruk.
Namun secercah informasi dalam ajaran agama (Islam) kita pun bisa memperoleh informasi bahwa orang baik itu bisa akrab dengan musibah. Yang membedakan barangkali adalah bagaimana menyikapi musibah itu sendiri.
Menyikapi MusibahYang paling ekstrim ada yang tega melakukan bunuh diri sedangkan yang paling bagus adalah bersabar.
Namun sesungguhnya Allah akan bersama dengan orang-orang yang sabar ketika ditimpa musibah (QS. Al Anfal: 46, 66). Sedangkan yang bunuh diri (tidak sabar) akan peroleh konsekwensi berat di akhe¬rat. Diantaranya alat yang digunakan untuk membunuh dirinya akan hadir di akhirat dan terus-menerus menyiksanya unlimit. (Lih. Sunan Al-Bukhory : 5333). Musibah itu sendiri hakikatnya berasal dari Allah, karenanya dikembalikan kepadaNya (Albaqarah: 156).
Dibalik musibah itu pasti terdapat hikmah yang mendalam. Pertanyaannya, apakah hikmah dibalik musibah itu dan bagaimana menyikapinya?Musibah (cobaan) bermacam-macam jenisnya.Misalnya yang biasanya bekerja lancar, kini di PHK; yang biasanya beroleh keuntungan 5 juta kini hanya 500 ribu; bahkan yang biasanya tidak pernah berhutang, kini menghadapi jeratan hutang hampir mencekiknya. Bahkan teman saya hilang kendaraan berhar-ganya dalam tempo yang singkat. Dampaknya orang menjadi stress, putus asa, resah dan gelisah. Kekuatan hati dan jiwanya merosot tajam. Padahal musibah itu bukan tidak selamanya adzab dari Allah, bahkan ia lahir dari tangan (kesalahan) dirinya (Arrum: 36; Asyuura: 30).
Manusia yang tenang-tenang saja ketika ditimpa musibah bisa kita tiru. Mungkin ia menganggapp seba¬gai angin dari Selatan. Dia meyakini angin Utara dan angin Barat akan bertiup berganti-ganti. Kebangkrutan, kegagalan dan kekecewaan seberapa parahnya, dibawanya tenang-tenang saja.
Gambaran orang yang kedua ini bisa jadi karena jiwanya tersadarkan oleh kekuatan ilmu yang meruhani. Seringkali kalimat yang terucap: “hidup bagaikan roda berputar”, “hidup tidak ubahnya gelombang sinus dalam osciloscope” dst.
Musibah IdentitasSeorang mukmin senantiasa hidupnya dikelilingi oleh penyebab yang membuatnya ketar-ketir. Namun hal ini tidak lain karena Allah mencintainya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:
Artinya: “Seorang mukmin tidak pernah sepi dari penyebab yang membuat hidupnya tidak dirasakan: “nama baiknya dirusak, kebutuhannya terus-menerus membebaninya….. “
Nama baik yang dirusak meru¬pakan sebuah cobaan yang cukup berat. Nama adalah identitas yang paling pribadi.
Musibah Menguji Kebaikan Salah satu hikmah dari musibah itu sendiri adalah saat datang dan menimpa pada seorang hamba, tidak lain untuk menguji dan meningkatkan derajat kebaik¬an. Bukankah Allah akan terus menguji hakekat keyakinan (iman) hati seorang hamba terhadap Tuhannya (QS. Al Ankabut: 2).
Karenanya, boleh jadi orang yang tengah ditimpa musibah dan cobaan semata-mata orang itu tengah dikaruniai suatu nikmat atau suatu kebaikan. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يُرِدْ الله بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
Artinya: Rasulullah bersabda: “barang¬siapa yang akan diberi kebaikan maka Allah berkehdak mem¬beri cobaan berupa musibah.” (Soheh Al Bukhary. Hadits no. 5313)
Menurut Abu Abi Alharwi, maksud hadits tersebut adalah diujinya seseorang dengan berbagai musibah yang menimpanya semata-mata agar memperoleh pahala kebaikan. Adapula yang mengartikan bahwa maksud hadits itu adalah untuk menampakkan suatu kebaikan maka ditimpalah musibah pada seseorang. (Fatkhul Baari)
Musibah Diampuni DosaHikmah berikutnya dari suatu cobaan adalah diampuni dosanya. Sebagaimana hadits Rasulullah yang didengar oleh Abu Ubaidah:
رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : من ابتلاه الله ببلاء في جسده فهو له حطة “
Abu Udaidah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang diuji oleh Allah dengan suatu cobaan yang menimpa badannya, maka itu adalah pengampunan dosanya.” (tafsir Al Qurthubi).
” إذا أحب الله قوما ابتلاهم فمن صبر فله الصبر ومن جزع فله الجزع “
“Jika Allah mencintai suatu kaum mereka dicoba dengan musibah; apabila sabar dicap sebagai orang yang sabar, jika tidak akan ditimpa kegelisahan.”
Musibah tak TerelakkanMusibah juga merupakan cobaan yang akan terus menimpa orang-orang beriman seperti hembusan angin yang menerpa pepohoanan. Karena orang-orang beriman akan selalu diujicoba. Sementara orang munafik cobaanya lebih berat.
Dalam hadist yang lain, Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan musibah yang menimpa orang mukmin itu seperti tanaman. Tidak akan henti-hentinya diterpa angin. Sementara perumpamaan orang munafik se¬perti batang pohon yang kuat dan tak bisa digoyang oleh angin sehingga harus ditebang.” (Albayaan: 1580).
Wallahu a’lam.
DALAM waktu dua hari setelah mudik dari Cirebon, mobil dan motor teman saya dibawa kabur maling. Kini ia hanya meratapi nasibnya. Kawanku yang lain pernah pula ditempa musibah yang cukup hebat. Juga saya sendiri dan Anda pembaca sekalian. Akankah mereka tetap kuat??
“Kang, motor isun wingine ilang.” (Mas, motor saya hilang dua hari yang lalu.)
“Ha!” jawabku kaget.
“Nembe bae sekie, mobil isun ilang” (baru saja, mobilku hilang juga)
“Haaaaaaa….!!!!!”
Begitulah kawan sedaerah yang tinggal di Ciputat ini menelpon saya saat kejadian kedua. Tak bisa dimengerti, dalam tempo dua hari kendaraanya hilang begitu saja.
Motor GL MAX tahun 2005 hilang saat diparkir di garasi rumahnya. Ketahuan, setelah ia datang dari kampung. Sedangkan mobil barunya yang biasa untuk mengangkut komputer dagangannya dua hari berikutnya, saat ia sendiri memarkir sebentar di kantin miliknya, samping UIN Ciputat. Padahal ia sendiri hanya sebentar masuk ke dalam. Begitu ke luar mobil itu kabur sendiri tanpa terdengar apa-apa.
Kini, ia hanya menunggu dalam ketidakpastian apakah kendaraanya bisa kembali atau tidak. Yang jelas ia sudah melaporkan kasus itu kepada polisi sektor Ciputat.
“Tolongin dong kang, punya orang pinter tidak yang bisa menolong saya?”
“Maksude?”
“Ya barangkali bisa menolong secara hikmah”
“Wah kalau itu sih saya tidak tahu. Mungkin kalau David Copperfield jadi datang ke sini, kita bisa minta tolong dia untuk menyulap mobilmu kembali.”
“Bocah geblg!”
“Iyaa Mud isun turut prihatin atas musibah sing menimpamu. Tapi yaa kepriben maning, isun bli bisa nulungi.”
“Kenen Mud, jare wong tua ning Crebon, sumangsane wong dagang rumbah soun sambele tumplek, iku tandae bakalan dagangane laris.”Aku mulai menghibur.
(begini Mud, kata orangtua di Cirebon, kalau ada tukang gado-gado sambel cairnya tumpah berantakan, maka itu pertanda baik kalau dagangannya bakalan laku keras.)
“huhahahaha…” ia tertawa tertawa lepas.
***
Saya melihat kejadian ini betul-betul mengagetkan. Kawanku yang dianggap orang baik-baik saja, terkena musibah beruntun. Namun juga sepertinya musibah itu tidak mengenal apakah orangnya baik atau buruk.
Namun secercah informasi dalam ajaran agama (Islam) kita pun bisa memperoleh informasi bahwa orang baik itu bisa akrab dengan musibah. Yang membedakan barangkali adalah bagaimana menyikapi musibah itu sendiri.
Menyikapi MusibahYang paling ekstrim ada yang tega melakukan bunuh diri sedangkan yang paling bagus adalah bersabar.
Namun sesungguhnya Allah akan bersama dengan orang-orang yang sabar ketika ditimpa musibah (QS. Al Anfal: 46, 66). Sedangkan yang bunuh diri (tidak sabar) akan peroleh konsekwensi berat di akhe¬rat. Diantaranya alat yang digunakan untuk membunuh dirinya akan hadir di akhirat dan terus-menerus menyiksanya unlimit. (Lih. Sunan Al-Bukhory : 5333). Musibah itu sendiri hakikatnya berasal dari Allah, karenanya dikembalikan kepadaNya (Albaqarah: 156).
Dibalik musibah itu pasti terdapat hikmah yang mendalam. Pertanyaannya, apakah hikmah dibalik musibah itu dan bagaimana menyikapinya?Musibah (cobaan) bermacam-macam jenisnya.Misalnya yang biasanya bekerja lancar, kini di PHK; yang biasanya beroleh keuntungan 5 juta kini hanya 500 ribu; bahkan yang biasanya tidak pernah berhutang, kini menghadapi jeratan hutang hampir mencekiknya. Bahkan teman saya hilang kendaraan berhar-ganya dalam tempo yang singkat. Dampaknya orang menjadi stress, putus asa, resah dan gelisah. Kekuatan hati dan jiwanya merosot tajam. Padahal musibah itu bukan tidak selamanya adzab dari Allah, bahkan ia lahir dari tangan (kesalahan) dirinya (Arrum: 36; Asyuura: 30).
Manusia yang tenang-tenang saja ketika ditimpa musibah bisa kita tiru. Mungkin ia menganggapp seba¬gai angin dari Selatan. Dia meyakini angin Utara dan angin Barat akan bertiup berganti-ganti. Kebangkrutan, kegagalan dan kekecewaan seberapa parahnya, dibawanya tenang-tenang saja.
Gambaran orang yang kedua ini bisa jadi karena jiwanya tersadarkan oleh kekuatan ilmu yang meruhani. Seringkali kalimat yang terucap: “hidup bagaikan roda berputar”, “hidup tidak ubahnya gelombang sinus dalam osciloscope” dst.
Musibah IdentitasSeorang mukmin senantiasa hidupnya dikelilingi oleh penyebab yang membuatnya ketar-ketir. Namun hal ini tidak lain karena Allah mencintainya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:
Artinya: “Seorang mukmin tidak pernah sepi dari penyebab yang membuat hidupnya tidak dirasakan: “nama baiknya dirusak, kebutuhannya terus-menerus membebaninya….. “
Nama baik yang dirusak meru¬pakan sebuah cobaan yang cukup berat. Nama adalah identitas yang paling pribadi.
Musibah Menguji Kebaikan Salah satu hikmah dari musibah itu sendiri adalah saat datang dan menimpa pada seorang hamba, tidak lain untuk menguji dan meningkatkan derajat kebaik¬an. Bukankah Allah akan terus menguji hakekat keyakinan (iman) hati seorang hamba terhadap Tuhannya (QS. Al Ankabut: 2).
Karenanya, boleh jadi orang yang tengah ditimpa musibah dan cobaan semata-mata orang itu tengah dikaruniai suatu nikmat atau suatu kebaikan. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يُرِدْ الله بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
Artinya: Rasulullah bersabda: “barang¬siapa yang akan diberi kebaikan maka Allah berkehdak mem¬beri cobaan berupa musibah.” (Soheh Al Bukhary. Hadits no. 5313)
Menurut Abu Abi Alharwi, maksud hadits tersebut adalah diujinya seseorang dengan berbagai musibah yang menimpanya semata-mata agar memperoleh pahala kebaikan. Adapula yang mengartikan bahwa maksud hadits itu adalah untuk menampakkan suatu kebaikan maka ditimpalah musibah pada seseorang. (Fatkhul Baari)
Musibah Diampuni DosaHikmah berikutnya dari suatu cobaan adalah diampuni dosanya. Sebagaimana hadits Rasulullah yang didengar oleh Abu Ubaidah:
رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : من ابتلاه الله ببلاء في جسده فهو له حطة “
Abu Udaidah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang diuji oleh Allah dengan suatu cobaan yang menimpa badannya, maka itu adalah pengampunan dosanya.” (tafsir Al Qurthubi).
” إذا أحب الله قوما ابتلاهم فمن صبر فله الصبر ومن جزع فله الجزع “
“Jika Allah mencintai suatu kaum mereka dicoba dengan musibah; apabila sabar dicap sebagai orang yang sabar, jika tidak akan ditimpa kegelisahan.”
Musibah tak TerelakkanMusibah juga merupakan cobaan yang akan terus menimpa orang-orang beriman seperti hembusan angin yang menerpa pepohoanan. Karena orang-orang beriman akan selalu diujicoba. Sementara orang munafik cobaanya lebih berat.
Dalam hadist yang lain, Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan musibah yang menimpa orang mukmin itu seperti tanaman. Tidak akan henti-hentinya diterpa angin. Sementara perumpamaan orang munafik se¬perti batang pohon yang kuat dan tak bisa digoyang oleh angin sehingga harus ditebang.” (Albayaan: 1580).
Wallahu a’lam.
Syaikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi (1): Guru Para Ulama Indonesia
Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…
Ada beberapa nama yang bisa disebut sebagai tokoh Kitab Kuning Indonesia. Sebut misalnya, Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Abdul Shamad Al-Palimbani, Syekh Yusuf Makasar, Syekh Syamsudin Sumatrani, Hamzah Fansuri, Nuruddin Al-Raniri, Sheikh Ihsan Al-Jampesi, dan Syekh Muhammad Mahfudz Al-Tirmasi. Mereka ini termasuk kelompok ulama yang diakui tidak hanya di kalangan pesantren di Indonesia, tapi juga di beberapa universitas di luar negeri. Dari beberapa tokoh tadi, nama Syekh Nawawi Al-Bantani boleh disebut sebagai tokoh utamanya. Ulama kelahiran Desa Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Serang, Banten, Jawa Barat, 1813 ini layak menempati posisi itu karena hasil karyanya menjadi rujukan utama berbagai pesantren di tanah air, bahkan di luar negeri.
Bernama lengkap Abu Abdullah al-Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar al-Tanari al-Bantani al-Jawi, Syekh Nawawi sejak kecil telah diarahkan ayahnya, KH. Umar bin Arabi menjadi seorang ulama. Setelah mendidik langsung putranya, KH. Umar yang sehari-harinya menjadi penghulu Kecamatan Tanara menyerahkan Nawawi kepada KH. Sahal, ulama terkenal di Banten. Usai dari Banten, Nawawi melanjutkan pendidikannya kepada ulama besar Purwakarta Kyai Yusuf.
Ketika berusia 15 tahun bersama dua orang saudaranya, Nawawi pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Tapi, setelah musim haji usai, ia tidak langsung kembali ke tanah air. Dorongan menuntut ilmu menyebabkan ia bertahan di Kota Suci Mekkah untuk menimba ilmu kepada ulama-ulama besar kelahiran Indonesia dan negeri lainnya, seperti Imam Masjidil Haram Syekh Ahmad Khatib Sambas, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni, Syekh Nahrawi, Syekh Ahmad Dimyati, Ahmad Zaini Dahlan, Muhammad Khatib Hambali, dan Syekh Abdul Hamid Daghestani.
Tiga tahun lamanya ia menggali ilmu dari ulama-ulama Mekkah. Setelah merasa bekal ilmunya cukup, segeralah ia kembali ke tanah air. Ia lalu mengajar dipesantren ayahnya. Namun, kondisi tanah air agaknya tidak menguntungkan pengembangan ilmunya. Saat itu, hampir semua ulama Islam mendapat tekanan dari penjajah Belanda. Keadaan itu tidak menyenangkan hati Nawawi. Lagi pula, keinginannya menuntut ilmu di negeri yang telah menarik hatinya, begitu berkobar. Akhirnya, kembalilah Syekh Nawawi ke Tanah Suci.
Kecerdasan dan ketekunannya mengantarkan ia menjadi salah satu murid yang terpandang di Masjidil Haram. Ketika Syekh Ahmad Khatib Sambas uzur menjadi Imam Masjidil Haram, Nawawi ditunjuk menggantikannya. Sejak saat itulah ia menjadi Imam Masjidil Haram dengan panggilan Syekh Nawawi al-Jawi. Selain menjadi Imam Masjid, ia juga mengajar dan menyelenggarakan halaqah (diskusi ilmiah) bagi murid-muridnya yang datang dari berbagai belahan dunia.
Laporan Snouck Hurgronje, orientalis yang pernah mengunjungi Mekkah ditahun 1884-1885 menyebut, Syekh Nawawi setiap harinya sejak pukul 07.30 hingga 12.00 memberikan tiga perkuliahan sesuai dengan kebutuhan jumlah muridnya. Di antara muridnya yang berasal dari Indonesia adalah KH. Kholil Madura, K.H. Asnawi Kudus, K.H. Tubagus Bakri, KH. Arsyad Thawil dari Banten dan KH. Hasyim Asy’ari dari Jombang. Mereka inilah yang kemudian hari menjadi ulama-ulama terkenal di tanah air. Sejak 15 tahun sebelum kewafatannya, Syekh Nawawi sangat giat dalam menulis buku. Akibatnya, ia tidak memiliki waktu lagi untuk mengajar. Ia termasuk penulis yang produktif dalam melahirkan kitab-kitab mengenai berbagai persoalan agama. Paling tidak 34 karya Syekh Nawawi tercatat dalam Dictionary of Arabic Printed Books karya Yusuf Alias Sarkis.
Beberapa kalangan lainnya malah menyebut karya-karyanya mencapai lebih dari 100 judul, meliputi berbagai disiplin ilmu, seperti tauhid, ilmu kalam, sejarah, syari’ah, tafsir, dan lainnya. Di antara buku yang ditulisnya dan mu’tabar (diakui secara luas–Red) seperti Tafsir Marah Labid, Atsimar al-Yaniah fi Ar-Riyadah al-Badiah, Nurazh Sullam, al-Futuhat al-Madaniyah, Tafsir Al-Munir, Tanqih Al-Qoul, Fath Majid, Sullam Munajah, Nihayah Zein, Salalim Al-Fudhala, Bidayah Al-Hidayah, Al-Ibriz Al-Daani, Bugyah Al-Awwam, Futuhus Samad, dan al-Aqdhu Tsamin. Sebagian karyanya tersebut juga diterbitkan di Timur Tengah. Dengan kiprah dan karya-karyanya ini, menempatkan dirinya sebagai Sayyid Ulama Hijaz hingga sekarang.
Dikenal sebagai ulama dan pemikir yang memiliki pandangan dan pendirian yang khas, Syekh Nawawi amat konsisten dan berkomitmen kuat bagi perjuangan umat Islam. Namun demikian, dalam menghadapi pemerintahan kolonial Hindia Belanda, ia memiliki caranya tersendiri. Syekh Nawawi misalnya, tidak agresif dan reaksioner dalam menghadapi kaum penjajah. Tapi, itu tak berarti ia kooperatif dengan mereka. Syekh Nawawi tetap menentang keras kerjasama dengan kolonial dalam bentuk apapun. Ia lebih suka memberikan perhatian kepada dunia ilmu dan para anak didiknya serta aktivitas dalam rangka menegakkan kebenaran dan agama Allah SWT.
Dalam bidang syari’at Islamiyah, Syekh Nawawi mendasarkan pandangannya pada dua sumber inti Islam, Alquran dan Al-Hadis, selain juga ijma’ dan qiyas. Empat pijakan ini seperti yang dipakai pendiri Mazhab Syafi’iyyah, yakni Imam Syafi’i. Mengenai ijtihad dan taklid (mengikuti salah satu ajaran), Syekh Nawawi berpendapat, bahwa yang termasuk mujtahid (ahli ijtihad) mutlak adalah Imam Syafi’i, Hanafi, Hanbali, dan Maliki. Bagi keempat ulama itu, katanya, haram bertaklid, sementara selain mereka wajib bertaklid kepada salah satu keempat imam mazhab tersebut. Pandangannya ini mungkin agak berbeda dengan kebanyakan ulama yang menilai pintu ijtihad tetaplah terbuka lebar sepanjang masa. Barangkali, bila dalam soal mazhab fikih, memang keempat ulama itulah yang patut diikuti umat Islam kini.
Apapun, umat Islam patut bersyukur pernah memiliki ulama dan guru besar keagamaan seperti Syekh Nawawi Al-Bantani. Kini, tahun haul (ulang tahun wafatnya) diperingati puluhan ribu orang di Tanara, Banten, setiap tahunnya.
Syekh Nawawi al-Bantani wafat dalam usia 84 tahun di Syeib A’li, sebuah kawasan di pinggiran kota Mekkah, pada 25 Syawal 1314H/1879 M.
Syaikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi (4-tammat): Al-Ghazali Modern, bagian-2
oleh: Mamat Salamet Burhanuddin*
Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…
Tidak seperti sufi Indonesia lainnya yang lebih banyak porsinya dalam menyadur teori-teori genostik Ibnu Arabi, Nawawi justru menampilkan tasawuf yang moderat antara hakikat dan syariat. Dalam formulasi pandangan tasawufnya tampak terlihat upaya perpaduan antara fiqh dan tasawuf. Ia lebih Gazalian (mengikuti Al-Ghazali) dalam hal ini.
Dalam kitab tasawufnya Salalim al-Fudlala, terlihat Nawawi bagai seorang sosok al-Gazali di era modern. Ia lihai dalam mengurai kebekuan dikotomi fiqh dan tasawuf. Sebagai contoh dapat dilihat dari pandangannya tentang ilmu alam lahir dan ilmu alam batin. Ilmu lahiriyah dapat diperoleh dengan proses ta’allum (berguru) dan tadarrus (belajar) sehingga mencapai derajat ‘alim sedangkan ilmu batin dapat diperoleh melalui proses dzikr, muraqabah dan musyahadah sehingga mencapai derajat ‘Arif. Seorang Abid diharapkan tidak hanya menjadi ‘alim yang banyak mengetahui ilmu-ilmu lahir saja tetapi juga harus arif, memahami rahasia spiritual ilmu batin.
Bagi Nawawi Tasawuf berarti pembinaan etika (Adab). Penguasaan ilmu lahiriah semata tanpa penguasaan ilmu batin akan berakibat terjerumus dalam kefasikan, sebaliknya seseorang berusaha menguasai ilmu batin semata tanpa dibarengi ilmu lahir akan terjerumus ke dalam zindiq. Jadi keduanya tidak dapat dipisahkan dalam upaya pembinaan etika atau moral (Adab).
Selain itu ciri yang menonjol dari sikap kesufian Nawawi adalah sikap moderatnya. Sikap moderat ini terlihat ketika ia diminta fatwanya oleh Sayyid Ustman bin Yahya, orang Arab yang menentang praktek tarekat di Indonesia, tentang tasawuf dan praktek tarekat yang disebutnya dengan “sistem yang durhaka”. Permintaan Sayyid Ustman ini bertujuan untuk mencari sokongan dari Nawawi dalam mengecam praktek tarekat yang dinilai oleh pemerintah Belanda sebagai penggerak pemberontakan Banten 1888. Namun secara hati-hati Nawawi menjawab dengan bahasa yang manis tanpa menyinggung perasaan Sayyid Ustman. Sebab Nawawi tahu bahwa di satu sisi ia memahami kecenderungan masyarakat Jawi yang senang akan dunia spiritual di sisi lain ia tidak mau terlibat langsung dalam persoalan politik.
Setelah karyanya banyak masuk di Indonesia wacana keIslaman yang dikembangkan di pesantren mulai berkembang. Misalkan dalam laporan penelitian Van Brunessen dikatakan bahwa sejak tahun 1888 M, bertahap kurikulum pesantren mulai acta perubahan mencolok. Bila sebelumnya seperti dalam catatan Van Den Berg dikatakatan tidak ditemukan sumber referensi di bidang Tafsir, Ushl al-Fiqh dan Hadits, sejak saat itu bidang keilmuan yang bersifat epistemologis tersebut mulai dikaji. Menurutnya perubahan tiga bidang di atas tidak terlepas dari jasa tiga orang alim Indonesia yang sangat berpengaruh: Syekh Nawawi Banten sendiri yang telah berjasa dalam menyemarakkan bidang tafsir, Syekh Ahmad Khatib (w. 1915) yang telah berjasa mengembangkan bidang Ushul Fiqh dengan kitabnya al-Nafahat ‘Ala Syarh al-Waraqat, dan Kiai Mahfuz Termas (1919 M) yang telah berjasa dalam bidang Ilmu Hadis.
Sebenarnya karya-karya Nawawi tidak hanya banyak dikaji dan dipelajari di seluruh pesantren di Indonesia tetapi bahkan di seluruh wilayah Asia Tenggara. Tulisan-tulisan Nawawi dikaji di lembaga-lembaga pondok tradisional di Malaysia, Filipina dan Thailand. Karya Nawawi diajarkan di sekolah-sekolah agama di Mindanao (Filipina Selatan), dan Thailand. Menurut Ray Salam T. Mangondanan, peneliti di Institut Studi Islam, University of Philippines, pada sekitar 40 sekolah agama di Filipina Selatan yang masih menggunakan kurikulum tradisional. Selain itu Sulaiman Yasin, seorang dosen di Fakultas Studi Islam, Universitas Kebangsaan di Malaysia, mengajar karya-karya Nawawi sejak periode 1950-1958 di Johor dan di beberapa sekolah agama di Malaysia. Di kawasan Indonesia menurut Martin Van Bruinessen yang sudah meneliti kurikulum kitab-kitab rujukan di 46 Pondok Pesantren Klasik 42 yang tersebar di Indonesia mencatat bahwa karya-karya Nawawi memang mendominasi kurikulum Pesantren. Sampai saat ia melakukan penelitian pada tahun 1990 diperkirakan pada 22 judul tulisan Nawawi yang masih dipelajari di sana. Dari 100 karya populer yang dijadikan contoh penelitiannya yang banyak dikaji di pesantren-pesantren terdapat 11 judul populer di antaranya adalah karya Nawawi.
Penyebaran karya Nawawi tidak lepas dari peran murid-muridnya. Di Indonesia murid-murid Nawawi termasuk tokoh-tokoh nasional Islam yang cukup banyak berperan selain dalam pendidikan Islam juga dalam perjuangan nasional. Di antaranya adalah : KH. Hasyim Asyari dari Tebuireng Jombang, Jawa Timur. (Pendiri organisasi Nahdlatul Ulama ), KH. Kholil dari Bangkalan, Madura, Jawa Timur, KH. Asyari dari Bawean, yang menikah dengan putri KH. Nawawi, Nyi Maryam, KH. Najihun dari Kampung Gunung, Mauk, Tangerang yang menikahi cucu perempuan KH. Nawawi, Nyi Salmah bint Rukayah bint Nawawi, KH. Tubagus Muhammad Asnawi, dari Caringin Labuan, Pandeglang Banten, KH. Ilyas dari Kampung Teras, Tanjung Kragilan, Serang , Banten, KH. Abd Gaffar dari Kampung Lampung, Kec. Tirtayasa, Serang Banten, KH. Tubagus Bakri dari Sempur, Purwakarta. Penyebaran karyanya di sejumlah pesantren yang tersebar di seluruh wilayah nusantara ini memperkokoh pengaruh ajaran Nawawi.
Penelitian Zamakhsyari Dhofir mencatat pesantren di Indonesia dapat dikatakan memiliki rangkaian geneologi yang sama. Polarisasi pemikiran modernis dan tradisionalis yang berkembang di Haramain seiring dengan munculnya gerakan pembaharuan Afghani dan Abduh, turut mempererat soliditas ulama tradisional di Indonesia yang sebagaian besar adalah sarjana-sarjana tamatan Mekkah dan Madinah. Bila ditarik simpul pengikat di sejumlah pesantren yang ada maka semuanya dapat diurai peranan kuatnya dari jasa enam tokoh ternama yang sangat menentukan warna jaringan intelektual pesantren. Mereka adalah Syekh Ahmad Khatib Syambas, Syekh K.H. Nawawi Banten., Syekh K.H. Mahfuz Termas, Syekh K.H. Abdul Karim, K.H. Kholil Bangkalan Madura, dan Syekh K.H. Hasyim Asy’ari. Tiga tokoh yang pertama merupakan guru dari tiga tokoh terakhir.
Mereka berjasa dalam menyebarkan ide-ide pemikiran gurunya. Karya-karya Nawawi yang tersebar di beberapa pesantren, tidak lepas dari jasa mereka. K.H. Hasyim Asya’ari, salah seorang murid Nawawi terkenal asal Jombang, sangat besar kontribusinya dalam memperkenalkan kitab-kitab Nawawi di pesantren-pesantren di Jawa. Dalam merespon gerakan reformasi untuk kembali kepada al-Qur’an di setiap pemikiran Islam, misalkan, K.H. Hasyim Asya’ari lebih cenderung untuk memilih pola penafsiran Marah Labid karya Nawawi yang tidak sama sekali meninggalkan karya ulama Salaf. Meskipun ia senang membaca Kitab tafsir al-Manar karya seorang reformis asal Mesir, Muhammad Abduh, tetapi karena menurut penilaiannya Abduh terlalu sinis mencela ulama klasik, ia tidak mau mengajarkannya pada santri dan ia lebih senang memilih kitab gurunya. Dua tokoh murid Nawawi lainnya berjasa di daerah asalnya. Syekh K.H. Kholil Bangkalan dengan pesantrennya di Madura tidak bisa dianggap kecil perannya dalam penyebaran karya Nawawi. Begitu juga dengan Syekh Abdul Karim yang berperan di Banten dengan Pesantrennya, dia terkenal dengan nama Kiai Ageng. Melalui tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah Ki Ageng menjadi tokoh sentral di bidang tasawuf di daerah Jawa Barat.
Kemudian ciri geneologi pesantren yang satu sama lain terkait juga turut mempercepat penyebaran karya-karya Nawawi, sehingga banyak dijadikan referensi utama. Bahkan untuk kitab tafsir karya Nawawi telah dijadikan sebagai kitab tafsir kedua atau ditempatkan sebagai tingkat mutawassith (tengah) di dunia Pesantren setelah tafsir Jalalain. Peranan Kiai para pemimpin pondok pesantren dalam memperkenalkan karya Nawawi sangat besar sekali. Mereka di berbagai pesantren merupakan ujung tombak dalam transmisi keilmuan tradisional Islam. Para kiai didikan K.H Hasyim Asyari memiliki semangat tersendiri dalam mengajarkan karya-karya Nawawi sehingga memperkuat pengaruh pemikiran Nawawi.
Dalam bidang tasawuf saja kita bisa menyaksikan betapa ia banyak mempengaruhi wacana penafsiran sufistik di Indonesia. Pesantren yang menjadi wahana penyebaran ide penafsiran Nawawi memang selain menjadi benteng penyebaran ajaran tasawuf dan tempat pengajaran kitab kuning juga merupakan wahana sintesis dari dua pergulatan antara tarekat heterodoks versus tarekat ortodoks di satu sisi dan pergulatan antara gerakan fiqh versus gerakan tasawuf di sisi lain. Karya-karyanya di bidang tasawuf cukup mempunyai konstribusi dalam melerai dua arus tasawuf dan fiqh tersebut. Dalam hal ini Nawawi, ibarat al-Ghazali, telah mendamaikan dua kecenderungan ekstrim antara tasawuf yang menitik beratkan emosi di satu sisi dan fiqh yang cenderung rasionalistik di sisi lain.
Sejak abad ke-20 pesantren memiliki fungsi strategis. Gerakan intelektual dari generasi pelanjut K.H. Nawawi ini lambat laun bergeser masuk dalam wilayah politik. Ketika kemelut politik di daerah Jazirah Arab meletus yang berujung pada penaklukan Haramain oleh penguasa Ibn Saud yang beraliran Wahabi, para ulama pesantren membentuk sebuah komite yang disebut dengan “komite Hijaz” yang terdiri dari 11 ulama pesantren. Dengan dimotori oleh K.H. Wahab Hasbullah dari Jombang Jatim, seorang kiai produk perguruan Haramain, komite ini bertugas melakukan negosiasi dengan raja Saudi yang akan memberlakukan kebijakan penghancuran makam-makam dan peninggalan-peninggalan bersejarah dan usaha itu berhasil. Dan, dalam perkembangannya komite ini kemudian berlanjut mengikuti isu-isu politik di dalam negeri. Untuk masuk dalam wilayah politik praktis secara intens organisasi ini kemudian mengalami perubahan nama dari Nahdlatul Wathan (NW) sampai jadi Nahdlatul Ulama (NU).
Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa KH.Nawawi merupakan sosok ulama yang menjadi “akar tunjang” dalam tradisi keintelektualan NU. Sebab karakteristik pola pemikirannya merupakan representasi kecenderungan pemikiran tradisional yang kuat di tengah-tengah gelombang gerakan purifikasi dan pembaharuan. Kehadiran NU adalah untuk membentengi tradisi ini dari ancaman penggusuran intelektual yang mengatasnamakan tajdid terhadap khasanah klasik. Karenanya formulasi manhaj al-Fikr tawaran KH. Nawawi banyak dielaborasi (diuraikan kembali) oleh para ulama NU sebagai garis perjuangannya yang sejak tahun 1926 dituangkan dalam setiap konferensinya. Bahkan tidak berlebihan bila disebut berdirinya NU merupakan tindak lanjut institusionalisasi dari arus pemikiran KH. Nawawi Banten.
Syaikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi (3): Al-Ghazali Modern, bagian-1
oleh: Mamat Salamet Burhanuddin*
Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…
Nama Syekh Nawawi Banten sudah tidak asing lagi bagi umat Islam Indonesia. Bahkan sering terdengar disamakan kebesarannya dengan tokoh ulama klasik madzhab Syafi’i Imam Nawawi (w.676 H/l277 M). Melalui karya-karyanya yang tersebar di pesantren-pesantren tradisional yang sampai sekarang masih banyak dikaji, nama Kiai asal Banten ini seakan masih hidup dan terus menyertai umat memberikan wejangan ajaran Islam yang menyejukkan. Di setiap majlis ta’lim karyanya selalu dijadikan rujukan utama dalam berbagai ilmu; dari ilmu tauhid, fiqh, tasawuf sampai tafsir. Karya-karyanya sangat berjasa dalam mengarahkan mainstrim keilmuan yang dikembangkan di lembaga-Iembaga pesantren yang berada di bawah naungan NU.
Di kalangan komunitas pesantren Syekh Nawawi tidak hanya dikenal sebagai ulama penulis kitab, tapi juga ia adalah mahaguru sejati (the great scholar). Nawawi telah banyak berjasa meletakkan landasan teologis dan batasan-batasan etis tradisi keilmuan di lembaga pendidikan pesantren. Ia turut banyak membentuk keintelektualan tokoh-tokoh para pendiri pesantren yang sekaligus juga banyak menjadi tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Apabila KH. Hasyim Asyari sering disebut sebagai tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya NU, maka Syekh Nawawi adalah guru utamanya. Di sela-sela pengajian kitab-kitab karya gurunya ini, seringkali KH. Hasyim Asyari bernostalgia bercerita tentang kehidupan Syekh Nawawi, kadang mengenangnya sampai meneteskan air mata karena besarnya kecintaan beliau terhadap Syekh Nawawi.
Mengungkap jaringan intelektual para ulama Indonesia sebelum organisasi NU berdiri merupakan kajian yang terlupakan dari perhatian para pemerhati NU. Terlebih lagi bila ditarik sampai keterkaitannya dengan keberhasilan ulama-ulama tradisional dalam karir keilmuannya di Mekkah dan Madinah. Salah satu faktor minimnya kajian di seputar ini adalah diakibatkan dari persepsi pemahaman sebagian masyarakat yang sederhana terhadap NU. NU dipahami sebagai organisasi keagamaan yang seolah-olah hanya bergerak dalam sosial politik dengan sejumlah langkah-langkah perjalanan politik praktisnya, dan bukan sebagai organisasi intelektual keagamaan yang bergerak dalam keilmuan dan mencetak para ulama. Sehingga orang merasa heran dan terkagum-kagum ketika menyaksikan belakangan ini banyak anak muda NU mengusung gerakan pemikiran yang sangat maju, berani dan progressif. Mereka tidak menyadari kalau di tubuh NU juga memiliki akar tradisi intelektual keilmuan yang mapan dan tipikal. Dengan begitu NU berdiri untuk menyelamatkan tradisi keilmuan Islam yang hampir tercerabut dari akar keilmuan ulama salaf. Figur ulama seperti Syekh Nawawi Banten merupakan sosok ulama berpengaruh yang tipikal dari model pemikiran demikian.
Ia memegang teguh mempertahankan traidisi keilmuan klasik, suatu tradisi keilmuan yang tidak bisa dilepaskan dari kesinambungan secara evolutif dalam pembentukkan keilmuan agama Islam. Besarnya pengaruh pola pemahaman dan pemikiran Syekh Nawawi Banten terhadap para tokoh ulama di Indonesia, Nawawi dapat dikatakan sebagai poros dari akar tradisi keilmuan pesantren dan NU. Untuk itu menarik jika di sini diuraikan sosok sang kiai ini dengan sejumlah pemikiran mendasar yang kelak akan banyak menjadi karakteristik pola pemikiran dan perjuangan para muridnya di pesantren-pesantren.
Hidup Syekh Nawawi
Syekh Nawawi Banten memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu’ti Muhammad ibn Umar al- Tanara al-Jawi al-Bantani. Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815 M/1230 H. Pada tanggal 25 Syawal 1314 H/1897 M. Nawawi menghembuskan nafasnya yang terakhir di usia 84 tahun. Ia dimakamkan di Ma’la dekat makam Siti Khadijah, Ummul Mukminin istri Nabi. Sebagai tokoh kebanggaan umat Islam di Jawa khususnya di Banten, Umat Islam di desa Tanara, Tirtayasa Banten setiap tahun di hari Jum’at terakhir bulan Syawwal selalu diadakan acara khol untuk memperingati jejak peninggalan Syekh Nawawi Banten.
Ayahnya bernama Kiai Umar, seorang pejabat penghulu yang memimpin Masjid. Dari silsilahnya, Nawawi merupakan keturunan kesultanan yang ke-12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan dari putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) yang bemama Sunyararas (Tajul ‘Arsy). Nasabnya bersambung dengan Nabi Muhammad melalui Imam Ja’far As- Shodiq, Imam Muhammad al Baqir, Imam Ali Zainal Abidin, Sayyidina Husen, Fatimah al-Zahra.
Pada usia 15 tahun, ia mendapat kesempatan untuk pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Di sana ia memanfaatkannya untuk belajar ilmu kalam, bahasa dan sastra Arab, ilmu hadis, tafsir dan terutama ilmu fiqh. Setelah tiga tahun belajar di Mekkah ia kembali ke daerahnya tahun 1833 dengan khazanah ilmu keagamaan yang relatif cukup lengkap untuk membantu ayahnya mengajar para santri. Nawawi yang sejak kecil telah menunjukkan kecerdasannya langsung mendapat simpati dari masyarakat Kedatangannya membuat pesantren yang dibina ayahnya membludak didatangi oleh santri yang datang dari berbagai pelosok. Namun hanya beberapa tahun kemudian ia memutuskan berangkat lagi ke Mekkah sesuai dengan impiannya untuk mukim dan menetap di sana.
Di Mekkah ia melanjutkan belajar ke guru-gurunya yang terkenal, pertama kali ia mengikuti bimbingan dari Syeikh Khatib Sambas (Penyatu Thariqat Qodiriyah-Naqsyabandiyah di Indonesia) dan Syekh Abdul Gani Duma, ulama asal Indonesia yang bermukim di sana. Setelah itu belajar pada Sayid Ahmad Dimyati, Ahmad Zaini Dahlan yang keduanya di Mekkah. Sedang di Madinah, ia belajar pada Muhammad Khatib al-Hanbali. Kemudian ia melanjutkan pelajarannya pada ulama-ulama besar di Mesir dan Syam (Syiria). Menurut penuturan Abdul Jabbar bahwa Nawawi juga pemah melakukan perjalanan menuntut ilmunya ke Mesir. Guru sejatinya pun berasal dari Mesir seperti Syekh Yusuf Sumbulawini dan Syekh Ahmad Nahrawi.
Setelah ia memutuskan untuk memilih hidup di Mekkah dan meninggalkan kampung halamannya ia menimba ilmu lebih dalam lagi di Mekkah selama 30 tahun. Kemudian pada tahun 1860 Nawawi mulai mengajar di lingkungan Masjid al-Haram. Prestasi mengajarnya cukup memuaskan karena dengan kedalaman pengetahuan agamanya, ia tercatat sebagai Syekh di sana. Pada tahun 1870 kesibukannya bertambah karena ia harus banyak menulis kitab. Inisiatif menulis banyak datang dari desakan sebagian koleganya yang meminta untuk menuliskan beberapa kitab. Kebanyakan permintaan itu datang dari sahabatnya yang berasal dari Jawi, karena dibutuhkan untuk dibacakan kembali di daerah asalnya. Desakan itu dapat terlihat dalam setiap karyanya yang sering ditulis atas permohonan sahabatnya. Kitab-kitab yang ditulisnya sebagian besar adalah kitab-kitab komentar (Syarh) dari karya-karya ulama sebelumnya yang populer dan dianggap sulit dipahami. Alasan menulis Syarh selain karena permintaan orang lain, Nawawi juga berkeinginan untuk melestarikan karya pendahulunya yang sering mengalami perubahan (ta’rif) dan pengurangan.
Dalam menyusun karyanya Nawawi selalu berkonsultasi dengan ulama-ulama besar lainnya, sebelum naik cetak naskahnya terlebih dahulu dibaca oleh mereka. Dilihat dari berbagai tempat kota penerbitan dan seringnya mengalami cetak ulang sebagaimana terlihat di atas maka dapat dipastikan bahwa karya tulisnya cepat tersiar ke berbagai penjuru dunia sampai ke daerah Mesir dan Syiria. Karena karyanya yang tersebar luas dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan padat isinya ini nama Nawawi bahkan termasuk dalam kategori salah satu ulama besar di abad ke 14 H/19 M. Karena kemasyhurannya ia mendapat gelar: A’yan ‘Ulama’ al-Qarn aI-Ra M’ ‘Asyar Li al-Hijrah,. AI-Imam al-Mul1aqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq, dan Sayyid ‘Ulama al-Hijaz [pemimpin Ulama daerah Hijaz, red.].
Kesibukannya dalam menulis membuat Nawawi kesulitan dalam mengorganisir waktu sehingga tidak jarang untuk mengajar para pemula ia sering mendelegasikan siswa-siswa seniornya untuk membantunya. Cara ini kelak ditiru sebagai metode pembelajaran di beberapa pesantren di pulau Jawa. Di sana santri pemula dianjurkan harus menguasai beberapa ilmu dasar terlebih dahulu sebelum belajar langsung pada kiai agar proses pembelajaran dengan kiai tidak mengalami kesulitan.
Bidang Teologi
Karya-karya besar Nawawi yang gagasan pemikiran pembaharuannya berangkat dari Mesir, sesungguhnya terbagi dalam tujuh kategorisasi bidang; yakni bidang tafsir, tauhid, fiqh, tasawuf, sejarah nabi, bahasa dan retorika. Hampir semua bidang ditulis dalam beberapa kitab kecuali bidang tafsir yang ditulisnya hanya satu kitab. Dari banyaknya karya yang ditulisnya ini dapat jadikan bukti bahwa memang Syeikh Nawawi adalah seorang penulis produktif multidisiplin, beliau banyak mengetahui semua bidang keilmuan Islam. Luasnya wawasan pengetahuan Nawawi yang tersebar membuat kesulitan bagi pengamat untuk menjelajah seluruh pemikirannya secara komprehensif-utuh.
Dalam beberapa tulisannya seringkali Nawawi mengaku dirinya sebagai penganut teologi Asy’ari (al-Asyari al-I’tiqodiy). Karya-karyanya yang banyak dikaji di Indonesia di bidang ini dianranya Fath ai-Majid, Tijan al-Durari, Nur al Dzulam, al-Futuhat al-Madaniyah, al-Tsumar al-Yaniah, Bahjat al-Wasail, Kasyifat as-Suja dan Mirqat al-Su’ud.
Sejalan dengan prinsip pola fikir yang dibangunnya, dalam bidang teologi Nawawi mengikuti aliran teologi Imam Abu Hasan al-Asyari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi. Sebagai penganut Asyariyah Syekh Nawawi banyak memperkenalkan konsep sifa-sifat Allah. Seorang muslim harus mempercayai bahwa Allah memiliki sifat yang dapat diketahui dari perbuatannya (His Act), karena sifat Allah adalah perbuatanNya. Dia membagi sifat Allah dalam tiga bagian : wajib, mustahil dan mumkin. Sifat Wajib adalah sifat yang pasti melekat pada Allah dan mustahil tidak adanya, dan mustahil adalah sifat yang pasti tidak melekat pada Allah dan wajib tidak adanya, sementara mumkin adalah sifat yang boleh ada dan tidak ada pada Allah. Meskipun Nawawi bukan orang pertama yang membahas konsep sifatiyah Allah, namun dalam konteks Indonesia Nawawi dinilai orang yang berhasil memperkenalkan teologi Asyari sebagai sistem teologi yang kuat di negeri ini.
Kemudian mengenai dalil naqliy dan ‘aqliy, menurutnya harus digunakan bersama-sama, tetapi terkadang bila terjadi pertentangan di antara keduanya maka naql harus didahulukan. Kewajiban seseorang untuk meyakini segala hal yang terkait dengan keimanan terhadap keberadaan Allah hanya dapat diketahui oleh naql, bukan dari aql. Bahkan tiga sifat di atas pun diperkenalkan kepada Nabi. Dan setiap mukallaf diwajibkan untuk menyimpan rapih pemahamannya dalam benak akal pikirannya.
Tema yang perlu diketahui di sini adalah tentang Kemahakuasaan Allah (Absolutenes of God). Sebagaimana teolog Asy’ary lainnya, Nawawi menempatkan dirinya sebagai penganut aliran yang berada di tengah-tengah antara dua aliran teologi ekstrim: Qadariyah dan Jabbariyah, sebagaimana dianut oleh ahlussunnah wal-Jama’ah. Dia mengakui Kemahakuasaan Tuhan tetapi konsepnya ini tidak sampai pada konsep jabariyah yang meyakini bahwa sebenamya semua perbuatan manusia itu dinisbatkan pada Allah dan tidak disandarkan pada daya manusia, manusia tidak memiliki kekuatan apa-apa. Untuk hal ini dalam konteks Indonesia sebenarnya Nawawi telah berhasil membangkitkan dan menyegarkan kembali ajaran Agama dalam bidang teologi dan berhasil mengeliminir kecenderungan meluasnya konsep absolutisme Jabbariyah di Indonesia dengan konsep tawakkal bi Allah.
Sayangnya sebagian sejarawan modern terlanjur menuding teologi Asyariyah sebagai sistem teologi yang tidak dapat menggugah perlawanan kolonialisme. Padahal fenomena kolonialisme pada waktu itu telah melanda seluruh daerah Islam dan tidak ada satu kekuatan teologi pun yang dapat melawannya, bahkan daerah yang bukan Asyariyah pun turut terkena. Dalam konteks Islam Jawa teologi Asyariyah dalam kadar tertentu sebenamya telah dapat menumbuhkan sikap merdekanya dari kekuatan lain setelah tawakkal kepada Allah. Melalui konsep penyerahan diri kepada Allah umat Islam disadarkan bahwa tidak ada kekuatan lain kecuali Allah. Kekuatan Allah tidak terkalahkan oleh kekuatan kolonialis. Di sinilah letak peranan Nawawi dalam pensosialisasian teologi Asyariyahnya yang terbukti dapat menggugah para muridnya di Mekkah berkumpul dalam “koloni Jawa”. Dalam beberapa kesempatan Nawawi sering memprovokasi bahwa bekerja sama dengan kolonial Belanda (non muslim) haram hukumnya. Dan seringkali kumpulan semacam ini selalu dicurigai oleh kolonial Belanda karena memiliki potensi melakukan perlawanan pada mereka.
Sementara di bidang fikih tidak berlebihan jika Syeikh Nawawi dikatakan sebagai “obor” mazhab imam Syafi’i untuk konteks Indonesia. Melalui karya-karya fiqhnya seperti Syarh Safinat an-Naja, Syarh Sullam at-Taufiq, Nihayat az-Zain fi Irsyad al-Mubtadi’in dan Tasyrih ala Fathul Qarib, sehingga KH. Nawawi berhasil memperkenalkan madzhab Syafi’i secara sempurna Dan, atas dedikasi KH. Nawawi yang mencurahkan hidupnya hanya untuk mengajar dan menulis mendapat apresiasi luas dari berbagai kalangan. Hasil tulisannya yang sudah tersebar luas setelah diterbitkan di berbagai daerah memberi kesan tersendiri bagi para pembacanya. Pada tahun 1870 para ulama Universitas al-Azhar Mesir pernah mengundangnya untuk memberikan kuliah singkat di suatu forum diskusi ilmiyah. Mereka tertarik untuk mengundangnya karena nama KH. Nawawi sudah dikenal melalui karya-karyanya yang telah banyak tersebar di Mesir.
Sufi Brilian
Sejauh itu dalam bidang tasawuf, Nawawi dengan aktivitas intelektualnya mencerminkan ia bersemangat menghidupkan disiplin ilmu-ilmu agama. Dalam bidang ini ia memiliki konsep yang identik dengan tasawuf ortodok. Dari karyanya saja Nawawi menunjukkan seorang sufi brilian, ia banyak memiliki tulisan di bidang tasawuf yang dapat dijadikan sebagai rujukan standar bagi seorang sufi. Brockleman, seorang penulis dari Belanda mencatat ada 3 karya Nawawi yang dapat merepresentasikan pandangan tasawufnya : yaitu Misbah al-Zulam, Qami’ al-Thugyan dan Salalim al Fudala. Di sana Nawawi banyak sekali merujuk kitab Ihya ‘Ulumuddin al-Ghazali. Bahkan kitab ini merupakan rujukan penting bagi setiap tarekat.
Pandangan tasawufnya meski tidak tergantung pada gurunya Syekh Khatib Sambas, seorang ulama tasawuf asal Jawi yang memimpin sebuah organisasi tarekat, bahkan tidak ikut menjadi anggota tarekat, namun ia memiliki pandangan bahwa keterkaitan antara praktek tarekat, syariat dan hakikat sangat erat. Untuk memahami lebih mudah dari keterkaitan ini Nawawi mengibaratkan syariat dengan sebuah kapal, tarekat dengan lautnya dan hakekat merupakan intan dalam lautan yang dapat diperoleh dengan kapal berlayar di laut. Dalam proses pengamalannya Syariat (hukum) dan tarekat merupakan awal dari perjalanan (ibtida’i) seorang sufi, sementara hakikat adalah hasil dari syariat dan tarikat. Pandangan ini mengindikasikan bahwa Syekh Nawawi tidak menolak praktek-praktek tarekat selama tarekat tersebut tidak mengajarkan hal-hat yang bertentangan dengan ajaran Islam, syariat.
Paparan konsep tasawufnya ini tampak pada konsistensi dengan pijakannya terhadap pengalaman spiritualitas ulama salaf. Tema-teman yang digunakan tidak jauh dari rumusan ulama tasawuf klasik. Model paparan tasawuf inilah yang membuat Nawawi harus dibedakan dengan tokoh sufi Indonesia lainnya. la dapat dimakzulkan (dibedakan) dari karakteristik tipologi tasawuf Indonesia, seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Abdurrauf Sinkel dan sebagainya.
Syaikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi (4-tammat): Al-Ghazali Modern, bagian-2
oleh: Mamat Salamet Burhanuddin*
Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…
Tidak seperti sufi Indonesia lainnya yang lebih banyak porsinya dalam menyadur teori-teori genostik Ibnu Arabi, Nawawi justru menampilkan tasawuf yang moderat antara hakikat dan syariat. Dalam formulasi pandangan tasawufnya tampak terlihat upaya perpaduan antara fiqh dan tasawuf. Ia lebih Gazalian (mengikuti Al-Ghazali) dalam hal ini.
Dalam kitab tasawufnya Salalim al-Fudlala, terlihat Nawawi bagai seorang sosok al-Gazali di era modern. Ia lihai dalam mengurai kebekuan dikotomi fiqh dan tasawuf. Sebagai contoh dapat dilihat dari pandangannya tentang ilmu alam lahir dan ilmu alam batin. Ilmu lahiriyah dapat diperoleh dengan proses ta’allum (berguru) dan tadarrus (belajar) sehingga mencapai derajat ‘alim sedangkan ilmu batin dapat diperoleh melalui proses dzikr, muraqabah dan musyahadah sehingga mencapai derajat ‘Arif. Seorang Abid diharapkan tidak hanya menjadi ‘alim yang banyak mengetahui ilmu-ilmu lahir saja tetapi juga harus arif, memahami rahasia spiritual ilmu batin.
Bagi Nawawi Tasawuf berarti pembinaan etika (Adab). Penguasaan ilmu lahiriah semata tanpa penguasaan ilmu batin akan berakibat terjerumus dalam kefasikan, sebaliknya seseorang berusaha menguasai ilmu batin semata tanpa dibarengi ilmu lahir akan terjerumus ke dalam zindiq. Jadi keduanya tidak dapat dipisahkan dalam upaya pembinaan etika atau moral (Adab).
Selain itu ciri yang menonjol dari sikap kesufian Nawawi adalah sikap moderatnya. Sikap moderat ini terlihat ketika ia diminta fatwanya oleh Sayyid Ustman bin Yahya, orang Arab yang menentang praktek tarekat di Indonesia, tentang tasawuf dan praktek tarekat yang disebutnya dengan “sistem yang durhaka”. Permintaan Sayyid Ustman ini bertujuan untuk mencari sokongan dari Nawawi dalam mengecam praktek tarekat yang dinilai oleh pemerintah Belanda sebagai penggerak pemberontakan Banten 1888. Namun secara hati-hati Nawawi menjawab dengan bahasa yang manis tanpa menyinggung perasaan Sayyid Ustman. Sebab Nawawi tahu bahwa di satu sisi ia memahami kecenderungan masyarakat Jawi yang senang akan dunia spiritual di sisi lain ia tidak mau terlibat langsung dalam persoalan politik.
Setelah karyanya banyak masuk di Indonesia wacana keIslaman yang dikembangkan di pesantren mulai berkembang. Misalkan dalam laporan penelitian Van Brunessen dikatakan bahwa sejak tahun 1888 M, bertahap kurikulum pesantren mulai acta perubahan mencolok. Bila sebelumnya seperti dalam catatan Van Den Berg dikatakatan tidak ditemukan sumber referensi di bidang Tafsir, Ushl al-Fiqh dan Hadits, sejak saat itu bidang keilmuan yang bersifat epistemologis tersebut mulai dikaji. Menurutnya perubahan tiga bidang di atas tidak terlepas dari jasa tiga orang alim Indonesia yang sangat berpengaruh: Syekh Nawawi Banten sendiri yang telah berjasa dalam menyemarakkan bidang tafsir, Syekh Ahmad Khatib (w. 1915) yang telah berjasa mengembangkan bidang Ushul Fiqh dengan kitabnya al-Nafahat ‘Ala Syarh al-Waraqat, dan Kiai Mahfuz Termas (1919 M) yang telah berjasa dalam bidang Ilmu Hadis.
Sebenarnya karya-karya Nawawi tidak hanya banyak dikaji dan dipelajari di seluruh pesantren di Indonesia tetapi bahkan di seluruh wilayah Asia Tenggara. Tulisan-tulisan Nawawi dikaji di lembaga-lembaga pondok tradisional di Malaysia, Filipina dan Thailand. Karya Nawawi diajarkan di sekolah-sekolah agama di Mindanao (Filipina Selatan), dan Thailand. Menurut Ray Salam T. Mangondanan, peneliti di Institut Studi Islam, University of Philippines, pada sekitar 40 sekolah agama di Filipina Selatan yang masih menggunakan kurikulum tradisional. Selain itu Sulaiman Yasin, seorang dosen di Fakultas Studi Islam, Universitas Kebangsaan di Malaysia, mengajar karya-karya Nawawi sejak periode 1950-1958 di Johor dan di beberapa sekolah agama di Malaysia. Di kawasan Indonesia menurut Martin Van Bruinessen yang sudah meneliti kurikulum kitab-kitab rujukan di 46 Pondok Pesantren Klasik 42 yang tersebar di Indonesia mencatat bahwa karya-karya Nawawi memang mendominasi kurikulum Pesantren. Sampai saat ia melakukan penelitian pada tahun 1990 diperkirakan pada 22 judul tulisan Nawawi yang masih dipelajari di sana. Dari 100 karya populer yang dijadikan contoh penelitiannya yang banyak dikaji di pesantren-pesantren terdapat 11 judul populer di antaranya adalah karya Nawawi.
Penyebaran karya Nawawi tidak lepas dari peran murid-muridnya. Di Indonesia murid-murid Nawawi termasuk tokoh-tokoh nasional Islam yang cukup banyak berperan selain dalam pendidikan Islam juga dalam perjuangan nasional. Di antaranya adalah : KH. Hasyim Asyari dari Tebuireng Jombang, Jawa Timur. (Pendiri organisasi Nahdlatul Ulama ), KH. Kholil dari Bangkalan, Madura, Jawa Timur, KH. Asyari dari Bawean, yang menikah dengan putri KH. Nawawi, Nyi Maryam, KH. Najihun dari Kampung Gunung, Mauk, Tangerang yang menikahi cucu perempuan KH. Nawawi, Nyi Salmah bint Rukayah bint Nawawi, KH. Tubagus Muhammad Asnawi, dari Caringin Labuan, Pandeglang Banten, KH. Ilyas dari Kampung Teras, Tanjung Kragilan, Serang , Banten, KH. Abd Gaffar dari Kampung Lampung, Kec. Tirtayasa, Serang Banten, KH. Tubagus Bakri dari Sempur, Purwakarta. Penyebaran karyanya di sejumlah pesantren yang tersebar di seluruh wilayah nusantara ini memperkokoh pengaruh ajaran Nawawi.
Penelitian Zamakhsyari Dhofir mencatat pesantren di Indonesia dapat dikatakan memiliki rangkaian geneologi yang sama. Polarisasi pemikiran modernis dan tradisionalis yang berkembang di Haramain seiring dengan munculnya gerakan pembaharuan Afghani dan Abduh, turut mempererat soliditas ulama tradisional di Indonesia yang sebagaian besar adalah sarjana-sarjana tamatan Mekkah dan Madinah. Bila ditarik simpul pengikat di sejumlah pesantren yang ada maka semuanya dapat diurai peranan kuatnya dari jasa enam tokoh ternama yang sangat menentukan warna jaringan intelektual pesantren. Mereka adalah Syekh Ahmad Khatib Syambas, Syekh K.H. Nawawi Banten., Syekh K.H. Mahfuz Termas, Syekh K.H. Abdul Karim, K.H. Kholil Bangkalan Madura, dan Syekh K.H. Hasyim Asy’ari. Tiga tokoh yang pertama merupakan guru dari tiga tokoh terakhir.
Mereka berjasa dalam menyebarkan ide-ide pemikiran gurunya. Karya-karya Nawawi yang tersebar di beberapa pesantren, tidak lepas dari jasa mereka. K.H. Hasyim Asya’ari, salah seorang murid Nawawi terkenal asal Jombang, sangat besar kontribusinya dalam memperkenalkan kitab-kitab Nawawi di pesantren-pesantren di Jawa. Dalam merespon gerakan reformasi untuk kembali kepada al-Qur’an di setiap pemikiran Islam, misalkan, K.H. Hasyim Asya’ari lebih cenderung untuk memilih pola penafsiran Marah Labid karya Nawawi yang tidak sama sekali meninggalkan karya ulama Salaf. Meskipun ia senang membaca Kitab tafsir al-Manar karya seorang reformis asal Mesir, Muhammad Abduh, tetapi karena menurut penilaiannya Abduh terlalu sinis mencela ulama klasik, ia tidak mau mengajarkannya pada santri dan ia lebih senang memilih kitab gurunya. Dua tokoh murid Nawawi lainnya berjasa di daerah asalnya. Syekh K.H. Kholil Bangkalan dengan pesantrennya di Madura tidak bisa dianggap kecil perannya dalam penyebaran karya Nawawi. Begitu juga dengan Syekh Abdul Karim yang berperan di Banten dengan Pesantrennya, dia terkenal dengan nama Kiai Ageng. Melalui tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah Ki Ageng menjadi tokoh sentral di bidang tasawuf di daerah Jawa Barat.
Kemudian ciri geneologi pesantren yang satu sama lain terkait juga turut mempercepat penyebaran karya-karya Nawawi, sehingga banyak dijadikan referensi utama. Bahkan untuk kitab tafsir karya Nawawi telah dijadikan sebagai kitab tafsir kedua atau ditempatkan sebagai tingkat mutawassith (tengah) di dunia Pesantren setelah tafsir Jalalain. Peranan Kiai para pemimpin pondok pesantren dalam memperkenalkan karya Nawawi sangat besar sekali. Mereka di berbagai pesantren merupakan ujung tombak dalam transmisi keilmuan tradisional Islam. Para kiai didikan K.H Hasyim Asyari memiliki semangat tersendiri dalam mengajarkan karya-karya Nawawi sehingga memperkuat pengaruh pemikiran Nawawi.
Dalam bidang tasawuf saja kita bisa menyaksikan betapa ia banyak mempengaruhi wacana penafsiran sufistik di Indonesia. Pesantren yang menjadi wahana penyebaran ide penafsiran Nawawi memang selain menjadi benteng penyebaran ajaran tasawuf dan tempat pengajaran kitab kuning juga merupakan wahana sintesis dari dua pergulatan antara tarekat heterodoks versus tarekat ortodoks di satu sisi dan pergulatan antara gerakan fiqh versus gerakan tasawuf di sisi lain. Karya-karyanya di bidang tasawuf cukup mempunyai konstribusi dalam melerai dua arus tasawuf dan fiqh tersebut. Dalam hal ini Nawawi, ibarat al-Ghazali, telah mendamaikan dua kecenderungan ekstrim antara tasawuf yang menitik beratkan emosi di satu sisi dan fiqh yang cenderung rasionalistik di sisi lain.
Sejak abad ke-20 pesantren memiliki fungsi strategis. Gerakan intelektual dari generasi pelanjut K.H. Nawawi ini lambat laun bergeser masuk dalam wilayah politik. Ketika kemelut politik di daerah Jazirah Arab meletus yang berujung pada penaklukan Haramain oleh penguasa Ibn Saud yang beraliran Wahabi, para ulama pesantren membentuk sebuah komite yang disebut dengan “komite Hijaz” yang terdiri dari 11 ulama pesantren. Dengan dimotori oleh K.H. Wahab Hasbullah dari Jombang Jatim, seorang kiai produk perguruan Haramain, komite ini bertugas melakukan negosiasi dengan raja Saudi yang akan memberlakukan kebijakan penghancuran makam-makam dan peninggalan-peninggalan bersejarah dan usaha itu berhasil. Dan, dalam perkembangannya komite ini kemudian berlanjut mengikuti isu-isu politik di dalam negeri. Untuk masuk dalam wilayah politik praktis secara intens organisasi ini kemudian mengalami perubahan nama dari Nahdlatul Wathan (NW) sampai jadi Nahdlatul Ulama (NU).
Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa KH.Nawawi merupakan sosok ulama yang menjadi “akar tunjang” dalam tradisi keintelektualan NU. Sebab karakteristik pola pemikirannya merupakan representasi kecenderungan pemikiran tradisional yang kuat di tengah-tengah gelombang gerakan purifikasi dan pembaharuan. Kehadiran NU adalah untuk membentengi tradisi ini dari ancaman penggusuran intelektual yang mengatasnamakan tajdid terhadap khasanah klasik. Karenanya formulasi manhaj al-Fikr tawaran KH. Nawawi banyak dielaborasi (diuraikan kembali) oleh para ulama NU sebagai garis perjuangannya yang sejak tahun 1926 dituangkan dalam setiap konferensinya. Bahkan tidak berlebihan bila disebut berdirinya NU merupakan tindak lanjut institusionalisasi dari arus pemikiran KH. Nawawi Banten.
Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…
Ada beberapa nama yang bisa disebut sebagai tokoh Kitab Kuning Indonesia. Sebut misalnya, Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Abdul Shamad Al-Palimbani, Syekh Yusuf Makasar, Syekh Syamsudin Sumatrani, Hamzah Fansuri, Nuruddin Al-Raniri, Sheikh Ihsan Al-Jampesi, dan Syekh Muhammad Mahfudz Al-Tirmasi. Mereka ini termasuk kelompok ulama yang diakui tidak hanya di kalangan pesantren di Indonesia, tapi juga di beberapa universitas di luar negeri. Dari beberapa tokoh tadi, nama Syekh Nawawi Al-Bantani boleh disebut sebagai tokoh utamanya. Ulama kelahiran Desa Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Serang, Banten, Jawa Barat, 1813 ini layak menempati posisi itu karena hasil karyanya menjadi rujukan utama berbagai pesantren di tanah air, bahkan di luar negeri.
Bernama lengkap Abu Abdullah al-Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar al-Tanari al-Bantani al-Jawi, Syekh Nawawi sejak kecil telah diarahkan ayahnya, KH. Umar bin Arabi menjadi seorang ulama. Setelah mendidik langsung putranya, KH. Umar yang sehari-harinya menjadi penghulu Kecamatan Tanara menyerahkan Nawawi kepada KH. Sahal, ulama terkenal di Banten. Usai dari Banten, Nawawi melanjutkan pendidikannya kepada ulama besar Purwakarta Kyai Yusuf.
Ketika berusia 15 tahun bersama dua orang saudaranya, Nawawi pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Tapi, setelah musim haji usai, ia tidak langsung kembali ke tanah air. Dorongan menuntut ilmu menyebabkan ia bertahan di Kota Suci Mekkah untuk menimba ilmu kepada ulama-ulama besar kelahiran Indonesia dan negeri lainnya, seperti Imam Masjidil Haram Syekh Ahmad Khatib Sambas, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni, Syekh Nahrawi, Syekh Ahmad Dimyati, Ahmad Zaini Dahlan, Muhammad Khatib Hambali, dan Syekh Abdul Hamid Daghestani.
Tiga tahun lamanya ia menggali ilmu dari ulama-ulama Mekkah. Setelah merasa bekal ilmunya cukup, segeralah ia kembali ke tanah air. Ia lalu mengajar dipesantren ayahnya. Namun, kondisi tanah air agaknya tidak menguntungkan pengembangan ilmunya. Saat itu, hampir semua ulama Islam mendapat tekanan dari penjajah Belanda. Keadaan itu tidak menyenangkan hati Nawawi. Lagi pula, keinginannya menuntut ilmu di negeri yang telah menarik hatinya, begitu berkobar. Akhirnya, kembalilah Syekh Nawawi ke Tanah Suci.
Kecerdasan dan ketekunannya mengantarkan ia menjadi salah satu murid yang terpandang di Masjidil Haram. Ketika Syekh Ahmad Khatib Sambas uzur menjadi Imam Masjidil Haram, Nawawi ditunjuk menggantikannya. Sejak saat itulah ia menjadi Imam Masjidil Haram dengan panggilan Syekh Nawawi al-Jawi. Selain menjadi Imam Masjid, ia juga mengajar dan menyelenggarakan halaqah (diskusi ilmiah) bagi murid-muridnya yang datang dari berbagai belahan dunia.
Laporan Snouck Hurgronje, orientalis yang pernah mengunjungi Mekkah ditahun 1884-1885 menyebut, Syekh Nawawi setiap harinya sejak pukul 07.30 hingga 12.00 memberikan tiga perkuliahan sesuai dengan kebutuhan jumlah muridnya. Di antara muridnya yang berasal dari Indonesia adalah KH. Kholil Madura, K.H. Asnawi Kudus, K.H. Tubagus Bakri, KH. Arsyad Thawil dari Banten dan KH. Hasyim Asy’ari dari Jombang. Mereka inilah yang kemudian hari menjadi ulama-ulama terkenal di tanah air. Sejak 15 tahun sebelum kewafatannya, Syekh Nawawi sangat giat dalam menulis buku. Akibatnya, ia tidak memiliki waktu lagi untuk mengajar. Ia termasuk penulis yang produktif dalam melahirkan kitab-kitab mengenai berbagai persoalan agama. Paling tidak 34 karya Syekh Nawawi tercatat dalam Dictionary of Arabic Printed Books karya Yusuf Alias Sarkis.
Beberapa kalangan lainnya malah menyebut karya-karyanya mencapai lebih dari 100 judul, meliputi berbagai disiplin ilmu, seperti tauhid, ilmu kalam, sejarah, syari’ah, tafsir, dan lainnya. Di antara buku yang ditulisnya dan mu’tabar (diakui secara luas–Red) seperti Tafsir Marah Labid, Atsimar al-Yaniah fi Ar-Riyadah al-Badiah, Nurazh Sullam, al-Futuhat al-Madaniyah, Tafsir Al-Munir, Tanqih Al-Qoul, Fath Majid, Sullam Munajah, Nihayah Zein, Salalim Al-Fudhala, Bidayah Al-Hidayah, Al-Ibriz Al-Daani, Bugyah Al-Awwam, Futuhus Samad, dan al-Aqdhu Tsamin. Sebagian karyanya tersebut juga diterbitkan di Timur Tengah. Dengan kiprah dan karya-karyanya ini, menempatkan dirinya sebagai Sayyid Ulama Hijaz hingga sekarang.
Dikenal sebagai ulama dan pemikir yang memiliki pandangan dan pendirian yang khas, Syekh Nawawi amat konsisten dan berkomitmen kuat bagi perjuangan umat Islam. Namun demikian, dalam menghadapi pemerintahan kolonial Hindia Belanda, ia memiliki caranya tersendiri. Syekh Nawawi misalnya, tidak agresif dan reaksioner dalam menghadapi kaum penjajah. Tapi, itu tak berarti ia kooperatif dengan mereka. Syekh Nawawi tetap menentang keras kerjasama dengan kolonial dalam bentuk apapun. Ia lebih suka memberikan perhatian kepada dunia ilmu dan para anak didiknya serta aktivitas dalam rangka menegakkan kebenaran dan agama Allah SWT.
Dalam bidang syari’at Islamiyah, Syekh Nawawi mendasarkan pandangannya pada dua sumber inti Islam, Alquran dan Al-Hadis, selain juga ijma’ dan qiyas. Empat pijakan ini seperti yang dipakai pendiri Mazhab Syafi’iyyah, yakni Imam Syafi’i. Mengenai ijtihad dan taklid (mengikuti salah satu ajaran), Syekh Nawawi berpendapat, bahwa yang termasuk mujtahid (ahli ijtihad) mutlak adalah Imam Syafi’i, Hanafi, Hanbali, dan Maliki. Bagi keempat ulama itu, katanya, haram bertaklid, sementara selain mereka wajib bertaklid kepada salah satu keempat imam mazhab tersebut. Pandangannya ini mungkin agak berbeda dengan kebanyakan ulama yang menilai pintu ijtihad tetaplah terbuka lebar sepanjang masa. Barangkali, bila dalam soal mazhab fikih, memang keempat ulama itulah yang patut diikuti umat Islam kini.
Apapun, umat Islam patut bersyukur pernah memiliki ulama dan guru besar keagamaan seperti Syekh Nawawi Al-Bantani. Kini, tahun haul (ulang tahun wafatnya) diperingati puluhan ribu orang di Tanara, Banten, setiap tahunnya.
Syekh Nawawi al-Bantani wafat dalam usia 84 tahun di Syeib A’li, sebuah kawasan di pinggiran kota Mekkah, pada 25 Syawal 1314H/1879 M.
Syaikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi (4-tammat): Al-Ghazali Modern, bagian-2
oleh: Mamat Salamet Burhanuddin*
Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…
Tidak seperti sufi Indonesia lainnya yang lebih banyak porsinya dalam menyadur teori-teori genostik Ibnu Arabi, Nawawi justru menampilkan tasawuf yang moderat antara hakikat dan syariat. Dalam formulasi pandangan tasawufnya tampak terlihat upaya perpaduan antara fiqh dan tasawuf. Ia lebih Gazalian (mengikuti Al-Ghazali) dalam hal ini.
Dalam kitab tasawufnya Salalim al-Fudlala, terlihat Nawawi bagai seorang sosok al-Gazali di era modern. Ia lihai dalam mengurai kebekuan dikotomi fiqh dan tasawuf. Sebagai contoh dapat dilihat dari pandangannya tentang ilmu alam lahir dan ilmu alam batin. Ilmu lahiriyah dapat diperoleh dengan proses ta’allum (berguru) dan tadarrus (belajar) sehingga mencapai derajat ‘alim sedangkan ilmu batin dapat diperoleh melalui proses dzikr, muraqabah dan musyahadah sehingga mencapai derajat ‘Arif. Seorang Abid diharapkan tidak hanya menjadi ‘alim yang banyak mengetahui ilmu-ilmu lahir saja tetapi juga harus arif, memahami rahasia spiritual ilmu batin.
Bagi Nawawi Tasawuf berarti pembinaan etika (Adab). Penguasaan ilmu lahiriah semata tanpa penguasaan ilmu batin akan berakibat terjerumus dalam kefasikan, sebaliknya seseorang berusaha menguasai ilmu batin semata tanpa dibarengi ilmu lahir akan terjerumus ke dalam zindiq. Jadi keduanya tidak dapat dipisahkan dalam upaya pembinaan etika atau moral (Adab).
Selain itu ciri yang menonjol dari sikap kesufian Nawawi adalah sikap moderatnya. Sikap moderat ini terlihat ketika ia diminta fatwanya oleh Sayyid Ustman bin Yahya, orang Arab yang menentang praktek tarekat di Indonesia, tentang tasawuf dan praktek tarekat yang disebutnya dengan “sistem yang durhaka”. Permintaan Sayyid Ustman ini bertujuan untuk mencari sokongan dari Nawawi dalam mengecam praktek tarekat yang dinilai oleh pemerintah Belanda sebagai penggerak pemberontakan Banten 1888. Namun secara hati-hati Nawawi menjawab dengan bahasa yang manis tanpa menyinggung perasaan Sayyid Ustman. Sebab Nawawi tahu bahwa di satu sisi ia memahami kecenderungan masyarakat Jawi yang senang akan dunia spiritual di sisi lain ia tidak mau terlibat langsung dalam persoalan politik.
Setelah karyanya banyak masuk di Indonesia wacana keIslaman yang dikembangkan di pesantren mulai berkembang. Misalkan dalam laporan penelitian Van Brunessen dikatakan bahwa sejak tahun 1888 M, bertahap kurikulum pesantren mulai acta perubahan mencolok. Bila sebelumnya seperti dalam catatan Van Den Berg dikatakatan tidak ditemukan sumber referensi di bidang Tafsir, Ushl al-Fiqh dan Hadits, sejak saat itu bidang keilmuan yang bersifat epistemologis tersebut mulai dikaji. Menurutnya perubahan tiga bidang di atas tidak terlepas dari jasa tiga orang alim Indonesia yang sangat berpengaruh: Syekh Nawawi Banten sendiri yang telah berjasa dalam menyemarakkan bidang tafsir, Syekh Ahmad Khatib (w. 1915) yang telah berjasa mengembangkan bidang Ushul Fiqh dengan kitabnya al-Nafahat ‘Ala Syarh al-Waraqat, dan Kiai Mahfuz Termas (1919 M) yang telah berjasa dalam bidang Ilmu Hadis.
Sebenarnya karya-karya Nawawi tidak hanya banyak dikaji dan dipelajari di seluruh pesantren di Indonesia tetapi bahkan di seluruh wilayah Asia Tenggara. Tulisan-tulisan Nawawi dikaji di lembaga-lembaga pondok tradisional di Malaysia, Filipina dan Thailand. Karya Nawawi diajarkan di sekolah-sekolah agama di Mindanao (Filipina Selatan), dan Thailand. Menurut Ray Salam T. Mangondanan, peneliti di Institut Studi Islam, University of Philippines, pada sekitar 40 sekolah agama di Filipina Selatan yang masih menggunakan kurikulum tradisional. Selain itu Sulaiman Yasin, seorang dosen di Fakultas Studi Islam, Universitas Kebangsaan di Malaysia, mengajar karya-karya Nawawi sejak periode 1950-1958 di Johor dan di beberapa sekolah agama di Malaysia. Di kawasan Indonesia menurut Martin Van Bruinessen yang sudah meneliti kurikulum kitab-kitab rujukan di 46 Pondok Pesantren Klasik 42 yang tersebar di Indonesia mencatat bahwa karya-karya Nawawi memang mendominasi kurikulum Pesantren. Sampai saat ia melakukan penelitian pada tahun 1990 diperkirakan pada 22 judul tulisan Nawawi yang masih dipelajari di sana. Dari 100 karya populer yang dijadikan contoh penelitiannya yang banyak dikaji di pesantren-pesantren terdapat 11 judul populer di antaranya adalah karya Nawawi.
Penyebaran karya Nawawi tidak lepas dari peran murid-muridnya. Di Indonesia murid-murid Nawawi termasuk tokoh-tokoh nasional Islam yang cukup banyak berperan selain dalam pendidikan Islam juga dalam perjuangan nasional. Di antaranya adalah : KH. Hasyim Asyari dari Tebuireng Jombang, Jawa Timur. (Pendiri organisasi Nahdlatul Ulama ), KH. Kholil dari Bangkalan, Madura, Jawa Timur, KH. Asyari dari Bawean, yang menikah dengan putri KH. Nawawi, Nyi Maryam, KH. Najihun dari Kampung Gunung, Mauk, Tangerang yang menikahi cucu perempuan KH. Nawawi, Nyi Salmah bint Rukayah bint Nawawi, KH. Tubagus Muhammad Asnawi, dari Caringin Labuan, Pandeglang Banten, KH. Ilyas dari Kampung Teras, Tanjung Kragilan, Serang , Banten, KH. Abd Gaffar dari Kampung Lampung, Kec. Tirtayasa, Serang Banten, KH. Tubagus Bakri dari Sempur, Purwakarta. Penyebaran karyanya di sejumlah pesantren yang tersebar di seluruh wilayah nusantara ini memperkokoh pengaruh ajaran Nawawi.
Penelitian Zamakhsyari Dhofir mencatat pesantren di Indonesia dapat dikatakan memiliki rangkaian geneologi yang sama. Polarisasi pemikiran modernis dan tradisionalis yang berkembang di Haramain seiring dengan munculnya gerakan pembaharuan Afghani dan Abduh, turut mempererat soliditas ulama tradisional di Indonesia yang sebagaian besar adalah sarjana-sarjana tamatan Mekkah dan Madinah. Bila ditarik simpul pengikat di sejumlah pesantren yang ada maka semuanya dapat diurai peranan kuatnya dari jasa enam tokoh ternama yang sangat menentukan warna jaringan intelektual pesantren. Mereka adalah Syekh Ahmad Khatib Syambas, Syekh K.H. Nawawi Banten., Syekh K.H. Mahfuz Termas, Syekh K.H. Abdul Karim, K.H. Kholil Bangkalan Madura, dan Syekh K.H. Hasyim Asy’ari. Tiga tokoh yang pertama merupakan guru dari tiga tokoh terakhir.
Mereka berjasa dalam menyebarkan ide-ide pemikiran gurunya. Karya-karya Nawawi yang tersebar di beberapa pesantren, tidak lepas dari jasa mereka. K.H. Hasyim Asya’ari, salah seorang murid Nawawi terkenal asal Jombang, sangat besar kontribusinya dalam memperkenalkan kitab-kitab Nawawi di pesantren-pesantren di Jawa. Dalam merespon gerakan reformasi untuk kembali kepada al-Qur’an di setiap pemikiran Islam, misalkan, K.H. Hasyim Asya’ari lebih cenderung untuk memilih pola penafsiran Marah Labid karya Nawawi yang tidak sama sekali meninggalkan karya ulama Salaf. Meskipun ia senang membaca Kitab tafsir al-Manar karya seorang reformis asal Mesir, Muhammad Abduh, tetapi karena menurut penilaiannya Abduh terlalu sinis mencela ulama klasik, ia tidak mau mengajarkannya pada santri dan ia lebih senang memilih kitab gurunya. Dua tokoh murid Nawawi lainnya berjasa di daerah asalnya. Syekh K.H. Kholil Bangkalan dengan pesantrennya di Madura tidak bisa dianggap kecil perannya dalam penyebaran karya Nawawi. Begitu juga dengan Syekh Abdul Karim yang berperan di Banten dengan Pesantrennya, dia terkenal dengan nama Kiai Ageng. Melalui tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah Ki Ageng menjadi tokoh sentral di bidang tasawuf di daerah Jawa Barat.
Kemudian ciri geneologi pesantren yang satu sama lain terkait juga turut mempercepat penyebaran karya-karya Nawawi, sehingga banyak dijadikan referensi utama. Bahkan untuk kitab tafsir karya Nawawi telah dijadikan sebagai kitab tafsir kedua atau ditempatkan sebagai tingkat mutawassith (tengah) di dunia Pesantren setelah tafsir Jalalain. Peranan Kiai para pemimpin pondok pesantren dalam memperkenalkan karya Nawawi sangat besar sekali. Mereka di berbagai pesantren merupakan ujung tombak dalam transmisi keilmuan tradisional Islam. Para kiai didikan K.H Hasyim Asyari memiliki semangat tersendiri dalam mengajarkan karya-karya Nawawi sehingga memperkuat pengaruh pemikiran Nawawi.
Dalam bidang tasawuf saja kita bisa menyaksikan betapa ia banyak mempengaruhi wacana penafsiran sufistik di Indonesia. Pesantren yang menjadi wahana penyebaran ide penafsiran Nawawi memang selain menjadi benteng penyebaran ajaran tasawuf dan tempat pengajaran kitab kuning juga merupakan wahana sintesis dari dua pergulatan antara tarekat heterodoks versus tarekat ortodoks di satu sisi dan pergulatan antara gerakan fiqh versus gerakan tasawuf di sisi lain. Karya-karyanya di bidang tasawuf cukup mempunyai konstribusi dalam melerai dua arus tasawuf dan fiqh tersebut. Dalam hal ini Nawawi, ibarat al-Ghazali, telah mendamaikan dua kecenderungan ekstrim antara tasawuf yang menitik beratkan emosi di satu sisi dan fiqh yang cenderung rasionalistik di sisi lain.
Sejak abad ke-20 pesantren memiliki fungsi strategis. Gerakan intelektual dari generasi pelanjut K.H. Nawawi ini lambat laun bergeser masuk dalam wilayah politik. Ketika kemelut politik di daerah Jazirah Arab meletus yang berujung pada penaklukan Haramain oleh penguasa Ibn Saud yang beraliran Wahabi, para ulama pesantren membentuk sebuah komite yang disebut dengan “komite Hijaz” yang terdiri dari 11 ulama pesantren. Dengan dimotori oleh K.H. Wahab Hasbullah dari Jombang Jatim, seorang kiai produk perguruan Haramain, komite ini bertugas melakukan negosiasi dengan raja Saudi yang akan memberlakukan kebijakan penghancuran makam-makam dan peninggalan-peninggalan bersejarah dan usaha itu berhasil. Dan, dalam perkembangannya komite ini kemudian berlanjut mengikuti isu-isu politik di dalam negeri. Untuk masuk dalam wilayah politik praktis secara intens organisasi ini kemudian mengalami perubahan nama dari Nahdlatul Wathan (NW) sampai jadi Nahdlatul Ulama (NU).
Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa KH.Nawawi merupakan sosok ulama yang menjadi “akar tunjang” dalam tradisi keintelektualan NU. Sebab karakteristik pola pemikirannya merupakan representasi kecenderungan pemikiran tradisional yang kuat di tengah-tengah gelombang gerakan purifikasi dan pembaharuan. Kehadiran NU adalah untuk membentengi tradisi ini dari ancaman penggusuran intelektual yang mengatasnamakan tajdid terhadap khasanah klasik. Karenanya formulasi manhaj al-Fikr tawaran KH. Nawawi banyak dielaborasi (diuraikan kembali) oleh para ulama NU sebagai garis perjuangannya yang sejak tahun 1926 dituangkan dalam setiap konferensinya. Bahkan tidak berlebihan bila disebut berdirinya NU merupakan tindak lanjut institusionalisasi dari arus pemikiran KH. Nawawi Banten.
Syaikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi (3): Al-Ghazali Modern, bagian-1
oleh: Mamat Salamet Burhanuddin*
Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…
Nama Syekh Nawawi Banten sudah tidak asing lagi bagi umat Islam Indonesia. Bahkan sering terdengar disamakan kebesarannya dengan tokoh ulama klasik madzhab Syafi’i Imam Nawawi (w.676 H/l277 M). Melalui karya-karyanya yang tersebar di pesantren-pesantren tradisional yang sampai sekarang masih banyak dikaji, nama Kiai asal Banten ini seakan masih hidup dan terus menyertai umat memberikan wejangan ajaran Islam yang menyejukkan. Di setiap majlis ta’lim karyanya selalu dijadikan rujukan utama dalam berbagai ilmu; dari ilmu tauhid, fiqh, tasawuf sampai tafsir. Karya-karyanya sangat berjasa dalam mengarahkan mainstrim keilmuan yang dikembangkan di lembaga-Iembaga pesantren yang berada di bawah naungan NU.
Di kalangan komunitas pesantren Syekh Nawawi tidak hanya dikenal sebagai ulama penulis kitab, tapi juga ia adalah mahaguru sejati (the great scholar). Nawawi telah banyak berjasa meletakkan landasan teologis dan batasan-batasan etis tradisi keilmuan di lembaga pendidikan pesantren. Ia turut banyak membentuk keintelektualan tokoh-tokoh para pendiri pesantren yang sekaligus juga banyak menjadi tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Apabila KH. Hasyim Asyari sering disebut sebagai tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya NU, maka Syekh Nawawi adalah guru utamanya. Di sela-sela pengajian kitab-kitab karya gurunya ini, seringkali KH. Hasyim Asyari bernostalgia bercerita tentang kehidupan Syekh Nawawi, kadang mengenangnya sampai meneteskan air mata karena besarnya kecintaan beliau terhadap Syekh Nawawi.
Mengungkap jaringan intelektual para ulama Indonesia sebelum organisasi NU berdiri merupakan kajian yang terlupakan dari perhatian para pemerhati NU. Terlebih lagi bila ditarik sampai keterkaitannya dengan keberhasilan ulama-ulama tradisional dalam karir keilmuannya di Mekkah dan Madinah. Salah satu faktor minimnya kajian di seputar ini adalah diakibatkan dari persepsi pemahaman sebagian masyarakat yang sederhana terhadap NU. NU dipahami sebagai organisasi keagamaan yang seolah-olah hanya bergerak dalam sosial politik dengan sejumlah langkah-langkah perjalanan politik praktisnya, dan bukan sebagai organisasi intelektual keagamaan yang bergerak dalam keilmuan dan mencetak para ulama. Sehingga orang merasa heran dan terkagum-kagum ketika menyaksikan belakangan ini banyak anak muda NU mengusung gerakan pemikiran yang sangat maju, berani dan progressif. Mereka tidak menyadari kalau di tubuh NU juga memiliki akar tradisi intelektual keilmuan yang mapan dan tipikal. Dengan begitu NU berdiri untuk menyelamatkan tradisi keilmuan Islam yang hampir tercerabut dari akar keilmuan ulama salaf. Figur ulama seperti Syekh Nawawi Banten merupakan sosok ulama berpengaruh yang tipikal dari model pemikiran demikian.
Ia memegang teguh mempertahankan traidisi keilmuan klasik, suatu tradisi keilmuan yang tidak bisa dilepaskan dari kesinambungan secara evolutif dalam pembentukkan keilmuan agama Islam. Besarnya pengaruh pola pemahaman dan pemikiran Syekh Nawawi Banten terhadap para tokoh ulama di Indonesia, Nawawi dapat dikatakan sebagai poros dari akar tradisi keilmuan pesantren dan NU. Untuk itu menarik jika di sini diuraikan sosok sang kiai ini dengan sejumlah pemikiran mendasar yang kelak akan banyak menjadi karakteristik pola pemikiran dan perjuangan para muridnya di pesantren-pesantren.
Hidup Syekh Nawawi
Syekh Nawawi Banten memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu’ti Muhammad ibn Umar al- Tanara al-Jawi al-Bantani. Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815 M/1230 H. Pada tanggal 25 Syawal 1314 H/1897 M. Nawawi menghembuskan nafasnya yang terakhir di usia 84 tahun. Ia dimakamkan di Ma’la dekat makam Siti Khadijah, Ummul Mukminin istri Nabi. Sebagai tokoh kebanggaan umat Islam di Jawa khususnya di Banten, Umat Islam di desa Tanara, Tirtayasa Banten setiap tahun di hari Jum’at terakhir bulan Syawwal selalu diadakan acara khol untuk memperingati jejak peninggalan Syekh Nawawi Banten.
Ayahnya bernama Kiai Umar, seorang pejabat penghulu yang memimpin Masjid. Dari silsilahnya, Nawawi merupakan keturunan kesultanan yang ke-12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan dari putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) yang bemama Sunyararas (Tajul ‘Arsy). Nasabnya bersambung dengan Nabi Muhammad melalui Imam Ja’far As- Shodiq, Imam Muhammad al Baqir, Imam Ali Zainal Abidin, Sayyidina Husen, Fatimah al-Zahra.
Pada usia 15 tahun, ia mendapat kesempatan untuk pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Di sana ia memanfaatkannya untuk belajar ilmu kalam, bahasa dan sastra Arab, ilmu hadis, tafsir dan terutama ilmu fiqh. Setelah tiga tahun belajar di Mekkah ia kembali ke daerahnya tahun 1833 dengan khazanah ilmu keagamaan yang relatif cukup lengkap untuk membantu ayahnya mengajar para santri. Nawawi yang sejak kecil telah menunjukkan kecerdasannya langsung mendapat simpati dari masyarakat Kedatangannya membuat pesantren yang dibina ayahnya membludak didatangi oleh santri yang datang dari berbagai pelosok. Namun hanya beberapa tahun kemudian ia memutuskan berangkat lagi ke Mekkah sesuai dengan impiannya untuk mukim dan menetap di sana.
Di Mekkah ia melanjutkan belajar ke guru-gurunya yang terkenal, pertama kali ia mengikuti bimbingan dari Syeikh Khatib Sambas (Penyatu Thariqat Qodiriyah-Naqsyabandiyah di Indonesia) dan Syekh Abdul Gani Duma, ulama asal Indonesia yang bermukim di sana. Setelah itu belajar pada Sayid Ahmad Dimyati, Ahmad Zaini Dahlan yang keduanya di Mekkah. Sedang di Madinah, ia belajar pada Muhammad Khatib al-Hanbali. Kemudian ia melanjutkan pelajarannya pada ulama-ulama besar di Mesir dan Syam (Syiria). Menurut penuturan Abdul Jabbar bahwa Nawawi juga pemah melakukan perjalanan menuntut ilmunya ke Mesir. Guru sejatinya pun berasal dari Mesir seperti Syekh Yusuf Sumbulawini dan Syekh Ahmad Nahrawi.
Setelah ia memutuskan untuk memilih hidup di Mekkah dan meninggalkan kampung halamannya ia menimba ilmu lebih dalam lagi di Mekkah selama 30 tahun. Kemudian pada tahun 1860 Nawawi mulai mengajar di lingkungan Masjid al-Haram. Prestasi mengajarnya cukup memuaskan karena dengan kedalaman pengetahuan agamanya, ia tercatat sebagai Syekh di sana. Pada tahun 1870 kesibukannya bertambah karena ia harus banyak menulis kitab. Inisiatif menulis banyak datang dari desakan sebagian koleganya yang meminta untuk menuliskan beberapa kitab. Kebanyakan permintaan itu datang dari sahabatnya yang berasal dari Jawi, karena dibutuhkan untuk dibacakan kembali di daerah asalnya. Desakan itu dapat terlihat dalam setiap karyanya yang sering ditulis atas permohonan sahabatnya. Kitab-kitab yang ditulisnya sebagian besar adalah kitab-kitab komentar (Syarh) dari karya-karya ulama sebelumnya yang populer dan dianggap sulit dipahami. Alasan menulis Syarh selain karena permintaan orang lain, Nawawi juga berkeinginan untuk melestarikan karya pendahulunya yang sering mengalami perubahan (ta’rif) dan pengurangan.
Dalam menyusun karyanya Nawawi selalu berkonsultasi dengan ulama-ulama besar lainnya, sebelum naik cetak naskahnya terlebih dahulu dibaca oleh mereka. Dilihat dari berbagai tempat kota penerbitan dan seringnya mengalami cetak ulang sebagaimana terlihat di atas maka dapat dipastikan bahwa karya tulisnya cepat tersiar ke berbagai penjuru dunia sampai ke daerah Mesir dan Syiria. Karena karyanya yang tersebar luas dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan padat isinya ini nama Nawawi bahkan termasuk dalam kategori salah satu ulama besar di abad ke 14 H/19 M. Karena kemasyhurannya ia mendapat gelar: A’yan ‘Ulama’ al-Qarn aI-Ra M’ ‘Asyar Li al-Hijrah,. AI-Imam al-Mul1aqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq, dan Sayyid ‘Ulama al-Hijaz [pemimpin Ulama daerah Hijaz, red.].
Kesibukannya dalam menulis membuat Nawawi kesulitan dalam mengorganisir waktu sehingga tidak jarang untuk mengajar para pemula ia sering mendelegasikan siswa-siswa seniornya untuk membantunya. Cara ini kelak ditiru sebagai metode pembelajaran di beberapa pesantren di pulau Jawa. Di sana santri pemula dianjurkan harus menguasai beberapa ilmu dasar terlebih dahulu sebelum belajar langsung pada kiai agar proses pembelajaran dengan kiai tidak mengalami kesulitan.
Bidang Teologi
Karya-karya besar Nawawi yang gagasan pemikiran pembaharuannya berangkat dari Mesir, sesungguhnya terbagi dalam tujuh kategorisasi bidang; yakni bidang tafsir, tauhid, fiqh, tasawuf, sejarah nabi, bahasa dan retorika. Hampir semua bidang ditulis dalam beberapa kitab kecuali bidang tafsir yang ditulisnya hanya satu kitab. Dari banyaknya karya yang ditulisnya ini dapat jadikan bukti bahwa memang Syeikh Nawawi adalah seorang penulis produktif multidisiplin, beliau banyak mengetahui semua bidang keilmuan Islam. Luasnya wawasan pengetahuan Nawawi yang tersebar membuat kesulitan bagi pengamat untuk menjelajah seluruh pemikirannya secara komprehensif-utuh.
Dalam beberapa tulisannya seringkali Nawawi mengaku dirinya sebagai penganut teologi Asy’ari (al-Asyari al-I’tiqodiy). Karya-karyanya yang banyak dikaji di Indonesia di bidang ini dianranya Fath ai-Majid, Tijan al-Durari, Nur al Dzulam, al-Futuhat al-Madaniyah, al-Tsumar al-Yaniah, Bahjat al-Wasail, Kasyifat as-Suja dan Mirqat al-Su’ud.
Sejalan dengan prinsip pola fikir yang dibangunnya, dalam bidang teologi Nawawi mengikuti aliran teologi Imam Abu Hasan al-Asyari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi. Sebagai penganut Asyariyah Syekh Nawawi banyak memperkenalkan konsep sifa-sifat Allah. Seorang muslim harus mempercayai bahwa Allah memiliki sifat yang dapat diketahui dari perbuatannya (His Act), karena sifat Allah adalah perbuatanNya. Dia membagi sifat Allah dalam tiga bagian : wajib, mustahil dan mumkin. Sifat Wajib adalah sifat yang pasti melekat pada Allah dan mustahil tidak adanya, dan mustahil adalah sifat yang pasti tidak melekat pada Allah dan wajib tidak adanya, sementara mumkin adalah sifat yang boleh ada dan tidak ada pada Allah. Meskipun Nawawi bukan orang pertama yang membahas konsep sifatiyah Allah, namun dalam konteks Indonesia Nawawi dinilai orang yang berhasil memperkenalkan teologi Asyari sebagai sistem teologi yang kuat di negeri ini.
Kemudian mengenai dalil naqliy dan ‘aqliy, menurutnya harus digunakan bersama-sama, tetapi terkadang bila terjadi pertentangan di antara keduanya maka naql harus didahulukan. Kewajiban seseorang untuk meyakini segala hal yang terkait dengan keimanan terhadap keberadaan Allah hanya dapat diketahui oleh naql, bukan dari aql. Bahkan tiga sifat di atas pun diperkenalkan kepada Nabi. Dan setiap mukallaf diwajibkan untuk menyimpan rapih pemahamannya dalam benak akal pikirannya.
Tema yang perlu diketahui di sini adalah tentang Kemahakuasaan Allah (Absolutenes of God). Sebagaimana teolog Asy’ary lainnya, Nawawi menempatkan dirinya sebagai penganut aliran yang berada di tengah-tengah antara dua aliran teologi ekstrim: Qadariyah dan Jabbariyah, sebagaimana dianut oleh ahlussunnah wal-Jama’ah. Dia mengakui Kemahakuasaan Tuhan tetapi konsepnya ini tidak sampai pada konsep jabariyah yang meyakini bahwa sebenamya semua perbuatan manusia itu dinisbatkan pada Allah dan tidak disandarkan pada daya manusia, manusia tidak memiliki kekuatan apa-apa. Untuk hal ini dalam konteks Indonesia sebenarnya Nawawi telah berhasil membangkitkan dan menyegarkan kembali ajaran Agama dalam bidang teologi dan berhasil mengeliminir kecenderungan meluasnya konsep absolutisme Jabbariyah di Indonesia dengan konsep tawakkal bi Allah.
Sayangnya sebagian sejarawan modern terlanjur menuding teologi Asyariyah sebagai sistem teologi yang tidak dapat menggugah perlawanan kolonialisme. Padahal fenomena kolonialisme pada waktu itu telah melanda seluruh daerah Islam dan tidak ada satu kekuatan teologi pun yang dapat melawannya, bahkan daerah yang bukan Asyariyah pun turut terkena. Dalam konteks Islam Jawa teologi Asyariyah dalam kadar tertentu sebenamya telah dapat menumbuhkan sikap merdekanya dari kekuatan lain setelah tawakkal kepada Allah. Melalui konsep penyerahan diri kepada Allah umat Islam disadarkan bahwa tidak ada kekuatan lain kecuali Allah. Kekuatan Allah tidak terkalahkan oleh kekuatan kolonialis. Di sinilah letak peranan Nawawi dalam pensosialisasian teologi Asyariyahnya yang terbukti dapat menggugah para muridnya di Mekkah berkumpul dalam “koloni Jawa”. Dalam beberapa kesempatan Nawawi sering memprovokasi bahwa bekerja sama dengan kolonial Belanda (non muslim) haram hukumnya. Dan seringkali kumpulan semacam ini selalu dicurigai oleh kolonial Belanda karena memiliki potensi melakukan perlawanan pada mereka.
Sementara di bidang fikih tidak berlebihan jika Syeikh Nawawi dikatakan sebagai “obor” mazhab imam Syafi’i untuk konteks Indonesia. Melalui karya-karya fiqhnya seperti Syarh Safinat an-Naja, Syarh Sullam at-Taufiq, Nihayat az-Zain fi Irsyad al-Mubtadi’in dan Tasyrih ala Fathul Qarib, sehingga KH. Nawawi berhasil memperkenalkan madzhab Syafi’i secara sempurna Dan, atas dedikasi KH. Nawawi yang mencurahkan hidupnya hanya untuk mengajar dan menulis mendapat apresiasi luas dari berbagai kalangan. Hasil tulisannya yang sudah tersebar luas setelah diterbitkan di berbagai daerah memberi kesan tersendiri bagi para pembacanya. Pada tahun 1870 para ulama Universitas al-Azhar Mesir pernah mengundangnya untuk memberikan kuliah singkat di suatu forum diskusi ilmiyah. Mereka tertarik untuk mengundangnya karena nama KH. Nawawi sudah dikenal melalui karya-karyanya yang telah banyak tersebar di Mesir.
Sufi Brilian
Sejauh itu dalam bidang tasawuf, Nawawi dengan aktivitas intelektualnya mencerminkan ia bersemangat menghidupkan disiplin ilmu-ilmu agama. Dalam bidang ini ia memiliki konsep yang identik dengan tasawuf ortodok. Dari karyanya saja Nawawi menunjukkan seorang sufi brilian, ia banyak memiliki tulisan di bidang tasawuf yang dapat dijadikan sebagai rujukan standar bagi seorang sufi. Brockleman, seorang penulis dari Belanda mencatat ada 3 karya Nawawi yang dapat merepresentasikan pandangan tasawufnya : yaitu Misbah al-Zulam, Qami’ al-Thugyan dan Salalim al Fudala. Di sana Nawawi banyak sekali merujuk kitab Ihya ‘Ulumuddin al-Ghazali. Bahkan kitab ini merupakan rujukan penting bagi setiap tarekat.
Pandangan tasawufnya meski tidak tergantung pada gurunya Syekh Khatib Sambas, seorang ulama tasawuf asal Jawi yang memimpin sebuah organisasi tarekat, bahkan tidak ikut menjadi anggota tarekat, namun ia memiliki pandangan bahwa keterkaitan antara praktek tarekat, syariat dan hakikat sangat erat. Untuk memahami lebih mudah dari keterkaitan ini Nawawi mengibaratkan syariat dengan sebuah kapal, tarekat dengan lautnya dan hakekat merupakan intan dalam lautan yang dapat diperoleh dengan kapal berlayar di laut. Dalam proses pengamalannya Syariat (hukum) dan tarekat merupakan awal dari perjalanan (ibtida’i) seorang sufi, sementara hakikat adalah hasil dari syariat dan tarikat. Pandangan ini mengindikasikan bahwa Syekh Nawawi tidak menolak praktek-praktek tarekat selama tarekat tersebut tidak mengajarkan hal-hat yang bertentangan dengan ajaran Islam, syariat.
Paparan konsep tasawufnya ini tampak pada konsistensi dengan pijakannya terhadap pengalaman spiritualitas ulama salaf. Tema-teman yang digunakan tidak jauh dari rumusan ulama tasawuf klasik. Model paparan tasawuf inilah yang membuat Nawawi harus dibedakan dengan tokoh sufi Indonesia lainnya. la dapat dimakzulkan (dibedakan) dari karakteristik tipologi tasawuf Indonesia, seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Abdurrauf Sinkel dan sebagainya.
Syaikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi (4-tammat): Al-Ghazali Modern, bagian-2
oleh: Mamat Salamet Burhanuddin*
Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…
Tidak seperti sufi Indonesia lainnya yang lebih banyak porsinya dalam menyadur teori-teori genostik Ibnu Arabi, Nawawi justru menampilkan tasawuf yang moderat antara hakikat dan syariat. Dalam formulasi pandangan tasawufnya tampak terlihat upaya perpaduan antara fiqh dan tasawuf. Ia lebih Gazalian (mengikuti Al-Ghazali) dalam hal ini.
Dalam kitab tasawufnya Salalim al-Fudlala, terlihat Nawawi bagai seorang sosok al-Gazali di era modern. Ia lihai dalam mengurai kebekuan dikotomi fiqh dan tasawuf. Sebagai contoh dapat dilihat dari pandangannya tentang ilmu alam lahir dan ilmu alam batin. Ilmu lahiriyah dapat diperoleh dengan proses ta’allum (berguru) dan tadarrus (belajar) sehingga mencapai derajat ‘alim sedangkan ilmu batin dapat diperoleh melalui proses dzikr, muraqabah dan musyahadah sehingga mencapai derajat ‘Arif. Seorang Abid diharapkan tidak hanya menjadi ‘alim yang banyak mengetahui ilmu-ilmu lahir saja tetapi juga harus arif, memahami rahasia spiritual ilmu batin.
Bagi Nawawi Tasawuf berarti pembinaan etika (Adab). Penguasaan ilmu lahiriah semata tanpa penguasaan ilmu batin akan berakibat terjerumus dalam kefasikan, sebaliknya seseorang berusaha menguasai ilmu batin semata tanpa dibarengi ilmu lahir akan terjerumus ke dalam zindiq. Jadi keduanya tidak dapat dipisahkan dalam upaya pembinaan etika atau moral (Adab).
Selain itu ciri yang menonjol dari sikap kesufian Nawawi adalah sikap moderatnya. Sikap moderat ini terlihat ketika ia diminta fatwanya oleh Sayyid Ustman bin Yahya, orang Arab yang menentang praktek tarekat di Indonesia, tentang tasawuf dan praktek tarekat yang disebutnya dengan “sistem yang durhaka”. Permintaan Sayyid Ustman ini bertujuan untuk mencari sokongan dari Nawawi dalam mengecam praktek tarekat yang dinilai oleh pemerintah Belanda sebagai penggerak pemberontakan Banten 1888. Namun secara hati-hati Nawawi menjawab dengan bahasa yang manis tanpa menyinggung perasaan Sayyid Ustman. Sebab Nawawi tahu bahwa di satu sisi ia memahami kecenderungan masyarakat Jawi yang senang akan dunia spiritual di sisi lain ia tidak mau terlibat langsung dalam persoalan politik.
Setelah karyanya banyak masuk di Indonesia wacana keIslaman yang dikembangkan di pesantren mulai berkembang. Misalkan dalam laporan penelitian Van Brunessen dikatakan bahwa sejak tahun 1888 M, bertahap kurikulum pesantren mulai acta perubahan mencolok. Bila sebelumnya seperti dalam catatan Van Den Berg dikatakatan tidak ditemukan sumber referensi di bidang Tafsir, Ushl al-Fiqh dan Hadits, sejak saat itu bidang keilmuan yang bersifat epistemologis tersebut mulai dikaji. Menurutnya perubahan tiga bidang di atas tidak terlepas dari jasa tiga orang alim Indonesia yang sangat berpengaruh: Syekh Nawawi Banten sendiri yang telah berjasa dalam menyemarakkan bidang tafsir, Syekh Ahmad Khatib (w. 1915) yang telah berjasa mengembangkan bidang Ushul Fiqh dengan kitabnya al-Nafahat ‘Ala Syarh al-Waraqat, dan Kiai Mahfuz Termas (1919 M) yang telah berjasa dalam bidang Ilmu Hadis.
Sebenarnya karya-karya Nawawi tidak hanya banyak dikaji dan dipelajari di seluruh pesantren di Indonesia tetapi bahkan di seluruh wilayah Asia Tenggara. Tulisan-tulisan Nawawi dikaji di lembaga-lembaga pondok tradisional di Malaysia, Filipina dan Thailand. Karya Nawawi diajarkan di sekolah-sekolah agama di Mindanao (Filipina Selatan), dan Thailand. Menurut Ray Salam T. Mangondanan, peneliti di Institut Studi Islam, University of Philippines, pada sekitar 40 sekolah agama di Filipina Selatan yang masih menggunakan kurikulum tradisional. Selain itu Sulaiman Yasin, seorang dosen di Fakultas Studi Islam, Universitas Kebangsaan di Malaysia, mengajar karya-karya Nawawi sejak periode 1950-1958 di Johor dan di beberapa sekolah agama di Malaysia. Di kawasan Indonesia menurut Martin Van Bruinessen yang sudah meneliti kurikulum kitab-kitab rujukan di 46 Pondok Pesantren Klasik 42 yang tersebar di Indonesia mencatat bahwa karya-karya Nawawi memang mendominasi kurikulum Pesantren. Sampai saat ia melakukan penelitian pada tahun 1990 diperkirakan pada 22 judul tulisan Nawawi yang masih dipelajari di sana. Dari 100 karya populer yang dijadikan contoh penelitiannya yang banyak dikaji di pesantren-pesantren terdapat 11 judul populer di antaranya adalah karya Nawawi.
Penyebaran karya Nawawi tidak lepas dari peran murid-muridnya. Di Indonesia murid-murid Nawawi termasuk tokoh-tokoh nasional Islam yang cukup banyak berperan selain dalam pendidikan Islam juga dalam perjuangan nasional. Di antaranya adalah : KH. Hasyim Asyari dari Tebuireng Jombang, Jawa Timur. (Pendiri organisasi Nahdlatul Ulama ), KH. Kholil dari Bangkalan, Madura, Jawa Timur, KH. Asyari dari Bawean, yang menikah dengan putri KH. Nawawi, Nyi Maryam, KH. Najihun dari Kampung Gunung, Mauk, Tangerang yang menikahi cucu perempuan KH. Nawawi, Nyi Salmah bint Rukayah bint Nawawi, KH. Tubagus Muhammad Asnawi, dari Caringin Labuan, Pandeglang Banten, KH. Ilyas dari Kampung Teras, Tanjung Kragilan, Serang , Banten, KH. Abd Gaffar dari Kampung Lampung, Kec. Tirtayasa, Serang Banten, KH. Tubagus Bakri dari Sempur, Purwakarta. Penyebaran karyanya di sejumlah pesantren yang tersebar di seluruh wilayah nusantara ini memperkokoh pengaruh ajaran Nawawi.
Penelitian Zamakhsyari Dhofir mencatat pesantren di Indonesia dapat dikatakan memiliki rangkaian geneologi yang sama. Polarisasi pemikiran modernis dan tradisionalis yang berkembang di Haramain seiring dengan munculnya gerakan pembaharuan Afghani dan Abduh, turut mempererat soliditas ulama tradisional di Indonesia yang sebagaian besar adalah sarjana-sarjana tamatan Mekkah dan Madinah. Bila ditarik simpul pengikat di sejumlah pesantren yang ada maka semuanya dapat diurai peranan kuatnya dari jasa enam tokoh ternama yang sangat menentukan warna jaringan intelektual pesantren. Mereka adalah Syekh Ahmad Khatib Syambas, Syekh K.H. Nawawi Banten., Syekh K.H. Mahfuz Termas, Syekh K.H. Abdul Karim, K.H. Kholil Bangkalan Madura, dan Syekh K.H. Hasyim Asy’ari. Tiga tokoh yang pertama merupakan guru dari tiga tokoh terakhir.
Mereka berjasa dalam menyebarkan ide-ide pemikiran gurunya. Karya-karya Nawawi yang tersebar di beberapa pesantren, tidak lepas dari jasa mereka. K.H. Hasyim Asya’ari, salah seorang murid Nawawi terkenal asal Jombang, sangat besar kontribusinya dalam memperkenalkan kitab-kitab Nawawi di pesantren-pesantren di Jawa. Dalam merespon gerakan reformasi untuk kembali kepada al-Qur’an di setiap pemikiran Islam, misalkan, K.H. Hasyim Asya’ari lebih cenderung untuk memilih pola penafsiran Marah Labid karya Nawawi yang tidak sama sekali meninggalkan karya ulama Salaf. Meskipun ia senang membaca Kitab tafsir al-Manar karya seorang reformis asal Mesir, Muhammad Abduh, tetapi karena menurut penilaiannya Abduh terlalu sinis mencela ulama klasik, ia tidak mau mengajarkannya pada santri dan ia lebih senang memilih kitab gurunya. Dua tokoh murid Nawawi lainnya berjasa di daerah asalnya. Syekh K.H. Kholil Bangkalan dengan pesantrennya di Madura tidak bisa dianggap kecil perannya dalam penyebaran karya Nawawi. Begitu juga dengan Syekh Abdul Karim yang berperan di Banten dengan Pesantrennya, dia terkenal dengan nama Kiai Ageng. Melalui tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah Ki Ageng menjadi tokoh sentral di bidang tasawuf di daerah Jawa Barat.
Kemudian ciri geneologi pesantren yang satu sama lain terkait juga turut mempercepat penyebaran karya-karya Nawawi, sehingga banyak dijadikan referensi utama. Bahkan untuk kitab tafsir karya Nawawi telah dijadikan sebagai kitab tafsir kedua atau ditempatkan sebagai tingkat mutawassith (tengah) di dunia Pesantren setelah tafsir Jalalain. Peranan Kiai para pemimpin pondok pesantren dalam memperkenalkan karya Nawawi sangat besar sekali. Mereka di berbagai pesantren merupakan ujung tombak dalam transmisi keilmuan tradisional Islam. Para kiai didikan K.H Hasyim Asyari memiliki semangat tersendiri dalam mengajarkan karya-karya Nawawi sehingga memperkuat pengaruh pemikiran Nawawi.
Dalam bidang tasawuf saja kita bisa menyaksikan betapa ia banyak mempengaruhi wacana penafsiran sufistik di Indonesia. Pesantren yang menjadi wahana penyebaran ide penafsiran Nawawi memang selain menjadi benteng penyebaran ajaran tasawuf dan tempat pengajaran kitab kuning juga merupakan wahana sintesis dari dua pergulatan antara tarekat heterodoks versus tarekat ortodoks di satu sisi dan pergulatan antara gerakan fiqh versus gerakan tasawuf di sisi lain. Karya-karyanya di bidang tasawuf cukup mempunyai konstribusi dalam melerai dua arus tasawuf dan fiqh tersebut. Dalam hal ini Nawawi, ibarat al-Ghazali, telah mendamaikan dua kecenderungan ekstrim antara tasawuf yang menitik beratkan emosi di satu sisi dan fiqh yang cenderung rasionalistik di sisi lain.
Sejak abad ke-20 pesantren memiliki fungsi strategis. Gerakan intelektual dari generasi pelanjut K.H. Nawawi ini lambat laun bergeser masuk dalam wilayah politik. Ketika kemelut politik di daerah Jazirah Arab meletus yang berujung pada penaklukan Haramain oleh penguasa Ibn Saud yang beraliran Wahabi, para ulama pesantren membentuk sebuah komite yang disebut dengan “komite Hijaz” yang terdiri dari 11 ulama pesantren. Dengan dimotori oleh K.H. Wahab Hasbullah dari Jombang Jatim, seorang kiai produk perguruan Haramain, komite ini bertugas melakukan negosiasi dengan raja Saudi yang akan memberlakukan kebijakan penghancuran makam-makam dan peninggalan-peninggalan bersejarah dan usaha itu berhasil. Dan, dalam perkembangannya komite ini kemudian berlanjut mengikuti isu-isu politik di dalam negeri. Untuk masuk dalam wilayah politik praktis secara intens organisasi ini kemudian mengalami perubahan nama dari Nahdlatul Wathan (NW) sampai jadi Nahdlatul Ulama (NU).
Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa KH.Nawawi merupakan sosok ulama yang menjadi “akar tunjang” dalam tradisi keintelektualan NU. Sebab karakteristik pola pemikirannya merupakan representasi kecenderungan pemikiran tradisional yang kuat di tengah-tengah gelombang gerakan purifikasi dan pembaharuan. Kehadiran NU adalah untuk membentengi tradisi ini dari ancaman penggusuran intelektual yang mengatasnamakan tajdid terhadap khasanah klasik. Karenanya formulasi manhaj al-Fikr tawaran KH. Nawawi banyak dielaborasi (diuraikan kembali) oleh para ulama NU sebagai garis perjuangannya yang sejak tahun 1926 dituangkan dalam setiap konferensinya. Bahkan tidak berlebihan bila disebut berdirinya NU merupakan tindak lanjut institusionalisasi dari arus pemikiran KH. Nawawi Banten.
Langganan:
Postingan (Atom)